DZUNNUN AL-MISHRY : MA’RIFAT
A. Pendahuluan
Kata ma'rifat memang mengandung arti pengetahuan. Maka, ma'rifat dalam tasawuf berarti pengetahuan yang diperoleh langsung dari Tuhan melalui kalbu. Pengetahuan ini disebut ilm ladunni. Ma'rifah berbeda dengan 'ilm. 'Ilm ini diperoleh melalui akal. Dalam pendapat al-Ghazali, pengetahuan yang diperoleh melalui kalbu, yaitu ma'rifah, lebih benar dari pengetahuan yang diperoleh melalui akal, yaitu 'ilm. Sebelum menempuh jalan tasawuf al-Ghazali diserang penyakit syak. Tapi, menurut al-Ghazali, setelah mencapai ma'rifah, keyakinannya untuk memperoleh kebenaran ternyata melalui tasawuf, bukan filsafat.
Lebih jauh mengenai ma'rifah dalam literatur tasawuf dijumpai ungkapan berikut, pertama, kalau mata yang terdapat di dalam hati sanubari manusia terbuka, mata kepalanya akan tertutup dan ketika itu yang dilihatnya hanya Allah. Kedua, ma'rifah adalah cermin. Kalau sufi melihat ke cermin itu yang akan dilihatnya hanyalah Allah. Ketiga, yang dilihat orang 'arif, baik sewaktu tidur maupun sewaktu bangun hanyalah Allah. Keempat, sekiranya ma'rifah mengambil bentuk materi, cahaya yang disinarkannya gelap. Semua orang yang memandangnya akan mati karena tak tahan melihat kecemerlangan dan keindahannya.
B. Dzunun Al-Mishry dan Konsep Ma’rifatnya
Dzunun Al-mishry adalah sufi pertama yang banyak menonjolkan konsep ma’rifat dalam ajaran tasawufnya. Nama lengkapnya Abu al-faid Sauban bin Ibrahim al-Mishry, Ia dilahirkan di Ikhmim, dataran tinggi mesir pada tahun 180 H/796 M. Nama Dzunun diambil karena suatu ketika Dzunun menumpang sebuah kapal saudagar kaya. Tiba-tiba saudagar itu kehilangan sebuah permata yang sangat berharga, dan Dzunun dituduh mencurinya. Karena itu ia disiksa dan dianiaya serta dipaksa untuk mengembalikan permata itu. Dalam keadaan tersiksa dan teraniaya , ia mengadahkan kepalanya ke langit sambil berseru “Wahai Tuhan, Engkaulah Yang MAha Tahu”. Mendadak muncullah ribuan ekor ikan nun ke permukan air mendekati kapal sambil membawa permata di mulur masing-masing. Ia lalu mengambil sebuah permatadan menyerahkannya kepada saudagar tadi. Sejak peristiwa aneh itu, ia digelari “Dzunun” artinya “yang empunya ikan nun”.
Walaupun sebelumnya paham ma’rifat sudah dikenal dikalangan sufi, namun dzununlah yang sebenarnya lebih menekankan paham ini dalam taasawuf. Riwayat hidupnya tidak banyak diketahui kecuali bahwa dunun banyak melakukan perjalanan ke berbagai wilayah. Daerah yang pernah dikunjunginya antara lain Damaskus, Baghdad, Mekah, Madinah, Suriah, Libanon , dan antiochia. Di samping seorang sufi, ia ahli filsafat, kimia, dan tulisan hieroglif atau tulisan dan abjad mesir kuno.
Dzunun al-Mishry hidup pada masa munculnya sejumlah ulama terkemuka dalam bidang ilmu fiqih, ilmu hadist, dan guru sufi, sehingga dapat berhubungan dan mengambil pelajaran dari mereka. Ia pernah mengikuti mengajian Ahmad bin Hanbal, ia mengambil hadist dari malik, al-Laits dan lain-lainnya. Guru nya dalam bidang tasawauf adalah Syaqran al-‘Abd atau Israfail al-Maghribi. Ini memungkinkan baginya untuk menjadi seorang yang alim baik dalam ilmu syari’at maupun tasawuf.
Dzunun merupakan orang pertama di mesir yang berbicara tentang ahwal dan maqamat para wali dan orang yang pertama member definisi tauhid dengan pengertian yang bercorak sufistik. Ia mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan pemikiran tasawuf. Tidaklah mengherankan kalau sejumlah penulis menyebutnya sebagai salah seorang peletak dasar-dasar tasawuf.pendapat tersebut cukup beralasan mengingat al-Mishry hidup pada masaawal pertumbuhan ilmu tasawuf.
Menurut Abu Bakar al-Kalabazi dalam bukunya at-Ta’aruf li Mazahib Ahl at-Tasawuf pengenalan terhadap mazhab-mazhab Ahli Tasawuf, Dzunun telah sampai pada tingkat ma’rifat, yaitu tingkat tertinggi dalam tasawuf setelah melewatu taubat, zuhud, fakir, sabar, tawakal ridha, dan cinta atau mahabbah. Ma’rifat adalah mengetahui Tuhan dengan hati sanubari. Dalam buku itu disebutkan bahwa suatu hari Dzunun ditanya tentang bagaiman ma’rifat itu diperoleh. Ia menjawa “Araftu rabbi bi rabbi walau la rabbi lama ‘araftu rabbi” yang artinya: Aku mengetahui Tuhan karena Tuhan, dan sekiranya tidak karena Tuhan, aku tidak akan mengetahui Tuhan. Kata Abu Qasim Abdul KArim al-Qusyairi, Dzunun mengakui bahwa ma’rifat yang diperolehnya bukan semata-mata hasil usahnya sebagai sufi, melainkan lebih merupakan anugerah yang dilimpahkan Tuhan bagi dirinya. Ma’rifat tidak diperoleh melalui pemikiran dan penalaran akal, tetapi bergantung pada kehendak dan rahmat Tuhan. Karena ma’rifat adalah pemberian Tuhan kepada sufi yang sanggup menerimanya.
Yang dimaksud Zunnun ialah bahwa ia memperoleh ma'rifah karena kemurahan hati Tuhan. Sekiranya Tuhan tidak membukakan tabir dari mata hatinya, ia tidak akan dapat melihat Tuhan. Sebagaimana disebut dalam literatur tasawuf, sufi berusaha keras mendekatkan diri dari bawah dan Tuhan menurunkan rahmat-Nya dari atas. Juga dikatakan bahwa ma'rifah datang ketika cinta sufi dari bawah dibalas Tuhan dari atas.
Dalam hubungan dengan Tuhan, sufi memakai alat bukan akal yang berpusat di kepala, tapi qalb atau kalbu (jantung) yang berpusat di dada. Kalbu mempunyai tiga daya, pertama, daya untuk-mengetahui sifat-sifat Tuhan yang disebut qalb. Kedua, daya untuk mencintai Tuhan yang disebut ruh. Ketiga daya untuk melihat Tuhan yang disebut sirr.
Sirr adalah daya terpeka dari kalbu dan daya ini keluar setelah sufi berhasil menyucikan jiwanya sesuci-sucinya. Dalam bahasa sufi, jiwa tak ubahnya sebagai kaca, yang kalau senantiasa dibersihkan dan digosok akan mempunyai daya tangkap yang besar. Demikian juga jiwa, makin lama ia disucikan dengan ibadat yang banyak, makin suci ia dan makin besar daya tangkapnya, sehingga akhirnya dapat menangkap daya cemerlang yang dipancarkan Tuhan. Ketika itu sufi pun bergemilang dalam cahaya Tuhan dan dapat melihat rahasia-rahasia Tuhan. Karena itu al-Ghazali mengartikan ma'rifat, "Melihat rahasia-rahasia Tuhan dan mengetahui peraturan-peraturan Tuhan tentang segala yang ada."
Dzunun membagi ma’rifat kedalam tiga tingkatan, yakni
1) Tingkat awam, yaitu mengetahui Tuhan melalui ucapan syhadat
2) Tingkat ulama, yaitu mengetahui Tuhan berdasarkan logika dan penalaran akal, dan
3) Tingkat sufi, yaitu mengetahui Tuhan melalui hati sanubari.
Pengetahuan orang awam tentang Tuhan padad asarnya adalah pengetahuaan yang diterima dari ajaran agama tanpa memerlukan pembuktian melalui logika, sedangkan pengethuan ulama mementingkan logika. Baik pengetahuan orang awam maupun pengetahuan ulama tentang Tuhan disebut ilmu, bukan ma’rifat. Dengan demikian, pengetahuan dalam bentuk ma’rifat menurut Dzunun adalah pengetahuan tentang Tuhan di kalangan kaum sufi yang dapat melihat Tuhan dengan hati sanubarinya. Pengetahuan serupa ini dianugerahkan Tuhan kepada kaum sufi yang dengan ikhlas beribadah dan sungguh-sungguh mencintai dan mengenal Tuhan. Dengan keikhlasan beribadah itulah Tuhan menyingkap tabir dari pandangan sufi untuk dapat menerima cahaya yang dipancarkan Tuhan. Dalam keadaan demikian, seorang sufi dapat melihat keindahan Tuhan yang abadi dan mengetahui keesaan-Nya.
Berikut ini beberapa pandangan Dzunun al-Mishry tentang hakikat ma’rifat:
1. Sesungguhnya ma’rifat yang hakiki bukanlah ilmu tentang keesaan Tuhan, sebagaimana yang dipercayai orang-orang mukmin , bukan pula ilmu-ilmu burhan dan nazhar milik para hakim, mutaklimin, dan ahli balagha, tetapi ma’rifat terhadap keesaan Tuhan yang khusus dimiliki para wali Allah. Sebab, mereka adalah orang-orang yang menyaksikan Allah dengan hatinya, sehingga terbukalah baginya apa yang tidak di bukakan untuk hamba-hambaNya yang lain.
2. Ma’rifat yang sebenarnya bahwa Allah SWT menyinari hatimu dengan cahaya ma’rifat yang murni seperti matahari,tidak dapat dilihat kecuali dengan cahnya. Senantiasa salah seorang hamba mendekat kepada Allah SWT sehungga terasa hilang dirinya, lebur dalam kekuasaannya, mereka merasa hamba, merka bicara dengan ilmu yang telah diletakkan Allah pada lidah mereka, mereka melihat dengan penglihatan Allah, mereka berbuat engan perbuatan Allah.
Kedua pandangan Dzunun diatas menjelaskan bahwa ma’rifat kepada Allah SWT tidak dapat ditempuh melalui pendekatan akal tetapi dengan jalan ma’rifat batin, yakni Tuhan menyinari hati manusia dan menjaganya dari ketercemasan, sehingga semua yang ada di dunia ini tidak mempunyai arti lagi.
Selain ma’rifat, Dzunun jaga mengungkapkan pengalamannya mengenai khauf atau rasa takut akan murka Allah SWT. Menurutnya, apabila keyakinan seseorang benar, benar pulalah rasa takut atau khauf-nya. Dalam syairnya ia mengatakan “Al-khauf rakib al-‘amal wa al-raja’ syafi’ al-muhif’”, yang artinya takut itu penjaga amal sedangkan harap adalah penolong bencana.
Pengalamannya dalam mahabbah terlihat dari ucapannya sebagai berikut: “aku memanggil-Mu di hadapan orang lain dengan sebutan ‘wahai tuhanku atau Ya Illahi’, tetapi manakal aku sendirian aku memanggil-Mu dengan panggilan ‘wahai kekasihku atau Ya habibi’.” Baginya, Tuhan adalah zat yang harus dicintai, bukan ditakuti. Dzunun lebih takut berpisah dari Tuhan sang kekasihnya, daripada masuk neraka. Ketakutannya pada neraka sama kecilnya dengan setitik air dibuang ke dalam samudera. Ketika Dzunun ditanya ttentang mahabbah, ia menjawab, “Mahabbah adalah mencintai ssegala yang dicintai Tuhan dan membenci segala yang dibenci Tuhan, mengerjakan kebajikan secara utuh dan sempurna dan menjauhi segala yang membuat kita berpaling dari Tuhan, tidak takut kecaman orang, bersikap lembut kepada orang mukmin, sebaliknya keras dan tegas terhadap orang kafir, dan mengikuti jejak Rasulullah dalam segala hal”.
Setelah ma’rifat itu dicapai, tujuan dan pengaruhnya dapat diterapkan dalam kehidupan. Dzunu mengatakan bahwa ma’rifat mempunyai jangkauan atau tujuan moral, yakni nilai kemanusiaan seoptimalnya harus berhiaskan akhlak Allah SWT. Dalam hubungan ini,pergaulan orang arif bagaikan pergaulan Allah SWT. Menurut Dzunun ada tiga tanda orang arif, yaiut:
1) Cahaya ma’rifatnya tidak memadamkan cahaya kerendahan hatinya,
2) Tidak mengukuhi secara bathiniah ilmu yang bertentangan dengan hokum lahiriah, dan
3) Nikmat Allah SWT yang banyak tidak mengiringinya untuk melanggar batas-batas larangan Allah SWt.
Tanda-tanda tersebut pada hakikatnya mengacu kepada profil seorang sufi yang memiliki akhlak yang tinggi yakni akhlak illahiah.
Paham ma’rifat yang dikemukakan oleh Dzunun Al-Mishry itu diterima oleh al-Ghazali, sehingga mendapat pengakuan di kalangan Ahlusunah waljamaah karena al-Ghazali adalah salah satu figure yang sangat berpengaruh di kalangan mereka.dengan demikian, al-Ghazali lah yang membuat tasawuf menurut pola piker tersebut menjadi halal bagi kaum syari’at. Penerimaan al-Ghazali terhadap tasawuf pada umumnya dan khususnya ma’rifat dapat difahami dari pendapatnya. Menurut al-Ghazali, ma’rifat adalah mengetahui rahasia-rahasia Allah SWT dan mengetahui peraturan-peraturan-Nya tentang segala yang ada. Bagi al-Ghazali, alat seorang sufi mendapatkan ma’rifat adalah kalbu, bukan panca indera dan akal. Pengetahuan yang diperoleh kalbu lebih benar daripada pengetahuan yang diperoleh melalui akal. Jalan untuk memperoleh kebenaran adalah tasawuf atau ma’rifat dan bukan falsafah.
Minggu, 25 Oktober 2009
RĀBI’AH AL-‘ADAWIYAH: MAHABBAH
RĀBI’AH AL-‘ADAWIYAH: MAHABBAH
1. Biografi Singkat Rābi’ah al-‘Adawiyah
Rābi’ah al-‘Adawiyah dilahirkan pada tahun 95 H/714 M atau 99 H/717-718 dan meninggal dunia di kota kelahirannya, Bashrah, pada tahun 185 H/801 M. Beliau dilahirkan di suatu perkampungan di Bashrah (Irak). Kedua orang tuanya berasal dari keluarga fakir dan sudah meninggal saat Rābi’ah masih muda. Meski orang tua Rābi’ah fakir, pendidikan agama pada keluarganya sangatlah dipentingkan. Rābi’ah telah terbiasa dididik dengan akhlak mulia. Sejak kecil, Rābi’ah selalu ikut kegiatan ibadah orang tuanya, baik itu ibadah mahdlah atau hanya sekadar membaca Alquran dan berzikir.
Sejak kecil pula Rābi’ah telah dapat merasakan keadaan orang tuanya, seperti seseorang yang telah dewasa merasakannya. Ia menjadi pendiam, tidak menuntut terlalu banyak dari orang tuanya seperti kebanyakan gadis kecil yang sedang beranjak dewasa. Jika sedang menghadapi hidangan makanan, ia tidak memperlihatkan kerakusannya, tetapi hanya mengambil sekadarnya saja. Selesai makan, tidak lupa ia mengucapkan puji syukur ke hadirat Allah Swt., seperti yang juga dilakukan oleh kedua orang tuanya. Selain itu, Rābi’ah mengambil teladan dari kedua orang tuanya dan dari saudara-saudaranya yang lain, mengenai ajaran agama Islam dan sifat-sifat keutamaan. Pernah Rābi’ah mendengar lafal-lafal doa itu tidak pernah hilang dari ingatannya karena selalu diulang-ulang dalam doanya.
Dalam kehidupan sehari-hari, ia selalu memerhatikan bagaimana ayahnya melakukan ibadah kepada Allah, antara lain dengan membaca Quran dan berzikir; ia pun selalu melakukan ibadah kepada Allah sesuai dengan yang telah dilihat dan didengarnya dari ayahnya. Rābi’ah juga sangat suka belajar menghafal ayat-ayat Alquran. Bila telah berhasil menghafalnya, ia duduk dan menghafalnya kembali dengan perasaan khusyuk, iman yang mendalam, dan pemahaman yang sempurna. Melihat hal ini, tak kuasa ayahnya menahan air mata. Ia sendiri tak tahu, apakah ini air mata gembira, atau air mata terharu, atau perasaan khusyuk.
Tidak jarang pula ayah Rābi’ah melihat putrinya mengasingkan diri, bermuka muram dan sedih, selalu dalam keadaan terjaga untuk beribadat kepada Allah, tak ubahnya tokoh-tokoh sufi yang telah terkenal. Pada suatu malam, ayahnya meninggalkan dia yang sedang membaca Alquran, menghadap kiblat sambil berdoa dengan menengadahkan tangannya, lalu menyapu mukanya dengan kedua tangannya, setelah ia selesai berdoa. Dalam keadaan seperti ini, hidup dalam suasana keimanan, peribadatan dan zuhud, Rābi’ah seolah-olah telah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi tantangan zaman, seperti kekacauan, pergolakan, dan cobaan yang akan menimpa dirinya. Dalam usianya yang masih sangat muda, ayah Rābi’ah berpulang ke rahmatullah, yang kemudian disusul oleh ibunya. Dengan demikian, sejak kecil ia telah merasa pahitnya penderitaan sebagai anak yatim, yang hidup dalam kemiskinan.
Menurut Muhammad Atiyah Khamis, setelah kedua orang tua Rābi’ah wafat, ia jatuh ke tangan perampok karena dihadang segerombolan penyamun, kemudian dia dijual sebagai hamba sahaya dengan harga yang sangat murah, yaitu 6 dirham. Pedagang yang telah membeli Rābi’ah sebagai hamba sahaya memperlakukannya secara tidak manusiawi. Ia bertindak sebagai orang yang kasar dan bengis, tanpa pandang bulu, bahkan kepada wanita yatim-piatu seperti Rābi’ah. Namun Rābi’ah menghadapi semua cobaan itu dengan segala kekuatan imannya. Kebengisan pedagang itu tidak menjadikannya putus asa, tetapi justru semakin mengokohkan imannya. Ia mengisi hari-harinya dengan berbagai macam kesibukan. Jika pada siang hari ia harus membanting tulang melakukan berbagai macam pekerjaan yang dibebankan tuannya kepadanya, maka pada malam hari ia mengisi waktunya dengan beribadah kepada Allah. Ia selalu berdoa, bermunajat pada Allah, memohon ampunan dan rida-Nya.
Suatu ketika, Rābi’ah berdoa dan mendirikan salat. Pedagang yang menjadi majikannya tiba-tiba melihat sebuah lentera berayun-ayun di atas kepala Rābi’ah, tanpa tali yang menahannya. Yang lebih mengherankan pedagang itu, cahaya lentera itu memancar ke seluruh kamar, sehingga menimbulkan ketakutan di hati majikan Rābi’ah. Semalaman ia tidak dapat memejamkan matanya, berusaha mencari jawaban atas peristiwa yang hampir tak dapat dipercayainya. Ketika fajar menyingsing, pedagang itu mendatangi Rābi’ah, dan berkata: “Rābi’ah, aku memberikan kebebasan kepadamu. Jika engkau mau, engkau boleh tinggal di sini. Kami semua akan menyediakan segala keperluanmu. Namun, kau bebas untuk menentukan pilihanmu, jika kau memang ingin meninggalkan kami.” Begitu mendengar perkataan tuannya, Rābi’ah segera bangkit, lalu mengucapkan selamat tinggal kepada tuannya, dan segera berangkat. Sejak itu, Rābi’ah telah menjadi orang yang merdeka.
Rābi’ah mencapai usia delapan puluhan tahun. Bukan hanya semata-mata tahun yang panjang, tapi waktu yang penuh dengan berkat hidup yang menyebar ke sekitarnya atau seperti dikatakan Louis Massignon, suatu kehidupan yang menyebarkan wangi yang semerbak ke daerah sekitarnya dan cinta yang tak pernah padam.
2. Konsep Mahabbah dalam Pandangan Rābi’ah al-‘Adawiyah
Kata “mahabbah”, atau “al-hubb”, menurut al-Qusyairī, adalah diambil dari kata habab (gelembung air) yang selalu di atas air, karena cinta merupakan puncak segalanya dalam hati. Juga merupakan sesuatu yang melambung di atas air ketika hujan turun. Di atas cinta ini hati terasa mendidih dan semakin meluap saat haus serta berkobar kerinduannya untuk bertemu kekasihnya. Di samping itu, al-hubb diambil dari al-habb, sebagai bentuk jamak kata al-habbah (biji). Sedang biji hati, sebagai sesuatu yang berada dan menetap dalam hati, sehingga al-habb (biji-bijian) dinamakan al-hubb (cinta), karena yang dimaksud adalah tempatnya.
Menurut al-Hujwiri, al-mahabbah/al-hubb terambil dari kata al-hibbah, merupakan benih-benih yang jatuh ke bumi di padang pasir. Kata ini ditujukan kepada benih-benih di padang pasir tersebut (al-hibb), karena cinta itu sebagai sumber kehidupan sebagaimana benih-benih itu merupakan asal mula tanaman. Tokoh lain menyatakan, al-mahabbah itu diambil dari al-hubb, yang berarti sebuah tempayan penuh dengan air tenang, karena jika cinta itu berpadu di dan memenuhi hati, maka tak ada ruang bagi pikiran tentang selain yang dicintai. Kata al-Syiblī, cinta itu dinamakan al-mahabbah, karena ia menghapus dari hati, segala sesuatu kecuali yang dicintainya. Kata tokoh lain, al-mahabbah diturunkan dari al-habb, jamak al-habbah, dan al-habbah itu relung hati di mana cinta bersemayam. Sumber lain menuturkan, kata itu diturunkan dari al-habab, yaitu gelembung-gelembung air dan luapan-luapannya waktu hujan lebat, karena cinta itu luapan hati yang merindukan persatuan dengan kekasih. Ini sebagaimana badan bisa hidup, karena ada ruh, begitu pula hati dapat hidup karena ada cinta, dan cinta bisa hidup, karena melihat dan bersatu dengan kekasih.
Sementara itu, menurut Harun Nasution, al-mahabbah adalah cinta dan yang dimaksud ialah cinta kepada Tuhan. Pengertian yang diberikan kepada mahabbah antara lain: (a.) Memeluk kepatuhan pada Tuhan dan membenci sikap melawan pada-Nya; (b.) Menyerahkan seluruh diri kepada yang dikasihi; dan (c.) Mengosongkan hati dari segala-galanya kecuali dari diri yang dikasihi.
Menurut Margaret Smith, Rābi’ah adalah orang pertama yang menyatakan doktrin cinta tanpa pamrih kepada Allah. Di dalam sejarah perkembangan tasawuf, hal ini merupakan konsepsi baru di kalangan para sufi kala itu. Untuk mengetahui lebih jauh tentang konsepsi al-mahabbah atau al-hubb menurut Rābi’ah, akan ditelusuri pernyataannya tentang cinta.
Pada suatu ketika, Rābi’ah ditanya pendapatnya tentang batasan konsepsi cinta. Rābi’ah menjawab :
“Cinta berbicara dengan kerinduan dan perasaan. Mereka yang merasakan cinta saja yang dapat mengenal apa itu cinta. Cinta tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Tak mungkin orang dapat menjelaskan sesuatu yang belum dikenalnya. Atau mengenali sesuatu yang belum pernah digaulinya. Cinta tak mungkin dikenal lewat hawa nafsu terlebih bila tuntutan cinta itu dikesampingkan. Cinta bisa membuat orang jadi bingung, akan menutup untuk menyatakan sesuatu. Cinta mampu menguasai hati.”
Rābi’ah juga membagi cinta menjadi dua macam. Pertama, cinta yang dapat membahagiakannya, dan kedua, cinta yang menjadi hak Allah. Pembagian ini dapat dilihat dalam syairnya :
أُحِبُّكَ حُبَّيْنِ حُبُّ الْهَوَى # وَحُبُّ لَأَنَّكَ أَهْلٌ لِذَاكَ
فَأَمَّا الَّذِيْ هُوَ حُبُّ الْهَوَى # فَشُغْلِيْ بِذِكْرِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
وَأَمَّا الَّذِيْ أَنْتَ أَهْلٌ لَهُ # فَكَشْفُكَ لِيَ الْحِجَابُ حَتَّى أَرَاكَ
فَلاَ الْحَمْدُ فِيْ ذَا وَلاَ ذَاكَ لِيْ # وَلَكِنَّ لَكَ الْحَمْدُ فِيْ ذَا وَذَاكَ
“Aku mencintaimu dengan dua cinta, cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu. Adapun cinta karena diriku adalah keadaanku yang selalu mengingat-Mu. Adapun cinta karena diri-Mu adalah keadaan-Mu mengungkapkan tabir hingga Engkau kulihat. Baik untuk ini maupun untuk itu, pujian bukanlah bagiku, bagi-Mulah pujian baik untuk ini maupun untuk itu.”
Bagi Rābi’ah, ibadah bukan untuk masuk surga atau menghindari neraka, tetapi untuk berjumpa dengan yang dicintai, yaitu Allah semata. Ini dapat dilihat pada :
إِلَهِيْ هَذَا اللَّيْلُ قَدْ أَدْبَرَ وَهَذَا النَّهَارُ قَدْ أَسْفَرَ فَلَيْتَ شَعْرِى أَقْبَلْتَ مِنْ لَيْلَتِى فَأَهْنَأَ أَمْ رَدَدْتَهَا فَأَعْزَى فَوَعَزْتُكَ هَذَا دَأْبِى مَا أَحْيَيْتَنِى وَأَعْنَتَنِى، وَعِزَّتُكَ لَوْ طَرِدْتَنِى عَنْ بَابِكَ مَا بَرِحْتُ عَنْهُ لِمَا وَقَعَ فِى قَلْبِى مَنْ مَحَبَّتِكَ
“Tuhanku, malam telah berlalu dan siang telah menampakkan diri. Aku gelisah, apakah amalku Engkau terima hingga aku merasa gembira atau Engkau tolak hingga aku merasa sedih? Demi Mahakuasa-Mu inilah yang aku lakukan selama aku Engkau beri hayat. Sekiranya Engkau mengusir aku dari depan pintu-Mu, aku tidak akan pergi, karena cintaku pada-Mu telah memenuhi hatiku.”
Atau, dalam pernyataannya yang lain :
بِأَنِّي مَا عَبَدْتُ اللهَ حُبًّا فِى جَنَّتِهِ وَلاَ خَوْفًا مِنْ نَارِهِ بَلْ عَبَدْتُهُ حُبًّا لَهُ وَشَوْقًا إِلَيْهِ
“Sesungguhnya aku tidak menyembah Allah karena mencintai surga-Nya, dan bukan pula takut neraka-Nya, tetapi aku menyembah-Nya karena mencintai-Nya dan merindukan-Nya.”
Bagi Rābi’ah, mahabbah merupakan maqām tertinggi dalam kesufiannya. Tahapan-tahapan kesufian Rābi’ah ialah taubah, zuhud, ridla, muraqabah, dan terakhir, mahabbah. Bagi Rābi’ah, cinta kepada Allah merupakan pendorong segala aktivitasnya. Dalam hidupnya di dunia ini, dia hanya ingin mengingat Tuhan dan di akhirat nanti, dia hanya ingin bertemu dengan Tuhan. Hati Rābi’ah telah dipenuhi oleh rasa cinta sampai tak ada ruang untuk membenci sesuatu, termasuk kepada setan. Hal ini tercetus sewaktu ditanya tentang setan, dia menjawab, “Tidak (benci), cintaku kepada Tuhan tidak meninggalkan ruang kosong dalam diriku untuk rasa benci pada setan.” Tentang cintanya kepada Nabi Muhammad Saw., dia menyatakan,” Saya cinta kepada Nabi, tetapi cintaku kepada Sang Pencipta memalingkan diriku dari cinta kepada makhluk.”
Wallāhu a’lam.
DAFTAR PUSTAKA
Ardani, Mohammad. Akhlak-Tasawuf: Nilai-nilai Akhlak/Budi Pekerti dalam Ibadat dan Tasawuf. Jakarta: 2005.
Asyhari, Muhammad. Tafsir Cinta: Tebarkan Kebajikan dengan Spirit Alquran. Jakarta: Hikmah, 2006.
Khamis, Muhammad Atiyah. Rabi’ah al-Adawiyah: Penyair Wanita Sufi, Penerjemah Aliudin Mahjuddin. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994.
al-Naisābūrī, ‘Abd al-Karīm Hawazin al-Qusyairī. Risalah Qusyairiyah: Sumber Kajian Ilmu Tasawuf, Penerjemah Umar Faruq. Jakarta: Pustaka Amani, 1998.
Nasution, Harun. Falsafah dan Mistisisme dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1992.
Smith, Margaret. Rabi’ah al-Adawiyah: Pergulatan Spiritual Perempuan, Penerjemah Jamilah Baraja. Surabaya: Risalah Gusti, 2001.
al-Sulami, Abū ‘Abdurrahmān. Sufi-sufi Wanita: Tradisi yang Tercadari, Penerjemah Ahsin Mohammad. Bandung: Pustaka Hidayah, 2004.
1. Biografi Singkat Rābi’ah al-‘Adawiyah
Rābi’ah al-‘Adawiyah dilahirkan pada tahun 95 H/714 M atau 99 H/717-718 dan meninggal dunia di kota kelahirannya, Bashrah, pada tahun 185 H/801 M. Beliau dilahirkan di suatu perkampungan di Bashrah (Irak). Kedua orang tuanya berasal dari keluarga fakir dan sudah meninggal saat Rābi’ah masih muda. Meski orang tua Rābi’ah fakir, pendidikan agama pada keluarganya sangatlah dipentingkan. Rābi’ah telah terbiasa dididik dengan akhlak mulia. Sejak kecil, Rābi’ah selalu ikut kegiatan ibadah orang tuanya, baik itu ibadah mahdlah atau hanya sekadar membaca Alquran dan berzikir.
Sejak kecil pula Rābi’ah telah dapat merasakan keadaan orang tuanya, seperti seseorang yang telah dewasa merasakannya. Ia menjadi pendiam, tidak menuntut terlalu banyak dari orang tuanya seperti kebanyakan gadis kecil yang sedang beranjak dewasa. Jika sedang menghadapi hidangan makanan, ia tidak memperlihatkan kerakusannya, tetapi hanya mengambil sekadarnya saja. Selesai makan, tidak lupa ia mengucapkan puji syukur ke hadirat Allah Swt., seperti yang juga dilakukan oleh kedua orang tuanya. Selain itu, Rābi’ah mengambil teladan dari kedua orang tuanya dan dari saudara-saudaranya yang lain, mengenai ajaran agama Islam dan sifat-sifat keutamaan. Pernah Rābi’ah mendengar lafal-lafal doa itu tidak pernah hilang dari ingatannya karena selalu diulang-ulang dalam doanya.
Dalam kehidupan sehari-hari, ia selalu memerhatikan bagaimana ayahnya melakukan ibadah kepada Allah, antara lain dengan membaca Quran dan berzikir; ia pun selalu melakukan ibadah kepada Allah sesuai dengan yang telah dilihat dan didengarnya dari ayahnya. Rābi’ah juga sangat suka belajar menghafal ayat-ayat Alquran. Bila telah berhasil menghafalnya, ia duduk dan menghafalnya kembali dengan perasaan khusyuk, iman yang mendalam, dan pemahaman yang sempurna. Melihat hal ini, tak kuasa ayahnya menahan air mata. Ia sendiri tak tahu, apakah ini air mata gembira, atau air mata terharu, atau perasaan khusyuk.
Tidak jarang pula ayah Rābi’ah melihat putrinya mengasingkan diri, bermuka muram dan sedih, selalu dalam keadaan terjaga untuk beribadat kepada Allah, tak ubahnya tokoh-tokoh sufi yang telah terkenal. Pada suatu malam, ayahnya meninggalkan dia yang sedang membaca Alquran, menghadap kiblat sambil berdoa dengan menengadahkan tangannya, lalu menyapu mukanya dengan kedua tangannya, setelah ia selesai berdoa. Dalam keadaan seperti ini, hidup dalam suasana keimanan, peribadatan dan zuhud, Rābi’ah seolah-olah telah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi tantangan zaman, seperti kekacauan, pergolakan, dan cobaan yang akan menimpa dirinya. Dalam usianya yang masih sangat muda, ayah Rābi’ah berpulang ke rahmatullah, yang kemudian disusul oleh ibunya. Dengan demikian, sejak kecil ia telah merasa pahitnya penderitaan sebagai anak yatim, yang hidup dalam kemiskinan.
Menurut Muhammad Atiyah Khamis, setelah kedua orang tua Rābi’ah wafat, ia jatuh ke tangan perampok karena dihadang segerombolan penyamun, kemudian dia dijual sebagai hamba sahaya dengan harga yang sangat murah, yaitu 6 dirham. Pedagang yang telah membeli Rābi’ah sebagai hamba sahaya memperlakukannya secara tidak manusiawi. Ia bertindak sebagai orang yang kasar dan bengis, tanpa pandang bulu, bahkan kepada wanita yatim-piatu seperti Rābi’ah. Namun Rābi’ah menghadapi semua cobaan itu dengan segala kekuatan imannya. Kebengisan pedagang itu tidak menjadikannya putus asa, tetapi justru semakin mengokohkan imannya. Ia mengisi hari-harinya dengan berbagai macam kesibukan. Jika pada siang hari ia harus membanting tulang melakukan berbagai macam pekerjaan yang dibebankan tuannya kepadanya, maka pada malam hari ia mengisi waktunya dengan beribadah kepada Allah. Ia selalu berdoa, bermunajat pada Allah, memohon ampunan dan rida-Nya.
Suatu ketika, Rābi’ah berdoa dan mendirikan salat. Pedagang yang menjadi majikannya tiba-tiba melihat sebuah lentera berayun-ayun di atas kepala Rābi’ah, tanpa tali yang menahannya. Yang lebih mengherankan pedagang itu, cahaya lentera itu memancar ke seluruh kamar, sehingga menimbulkan ketakutan di hati majikan Rābi’ah. Semalaman ia tidak dapat memejamkan matanya, berusaha mencari jawaban atas peristiwa yang hampir tak dapat dipercayainya. Ketika fajar menyingsing, pedagang itu mendatangi Rābi’ah, dan berkata: “Rābi’ah, aku memberikan kebebasan kepadamu. Jika engkau mau, engkau boleh tinggal di sini. Kami semua akan menyediakan segala keperluanmu. Namun, kau bebas untuk menentukan pilihanmu, jika kau memang ingin meninggalkan kami.” Begitu mendengar perkataan tuannya, Rābi’ah segera bangkit, lalu mengucapkan selamat tinggal kepada tuannya, dan segera berangkat. Sejak itu, Rābi’ah telah menjadi orang yang merdeka.
Rābi’ah mencapai usia delapan puluhan tahun. Bukan hanya semata-mata tahun yang panjang, tapi waktu yang penuh dengan berkat hidup yang menyebar ke sekitarnya atau seperti dikatakan Louis Massignon, suatu kehidupan yang menyebarkan wangi yang semerbak ke daerah sekitarnya dan cinta yang tak pernah padam.
2. Konsep Mahabbah dalam Pandangan Rābi’ah al-‘Adawiyah
Kata “mahabbah”, atau “al-hubb”, menurut al-Qusyairī, adalah diambil dari kata habab (gelembung air) yang selalu di atas air, karena cinta merupakan puncak segalanya dalam hati. Juga merupakan sesuatu yang melambung di atas air ketika hujan turun. Di atas cinta ini hati terasa mendidih dan semakin meluap saat haus serta berkobar kerinduannya untuk bertemu kekasihnya. Di samping itu, al-hubb diambil dari al-habb, sebagai bentuk jamak kata al-habbah (biji). Sedang biji hati, sebagai sesuatu yang berada dan menetap dalam hati, sehingga al-habb (biji-bijian) dinamakan al-hubb (cinta), karena yang dimaksud adalah tempatnya.
Menurut al-Hujwiri, al-mahabbah/al-hubb terambil dari kata al-hibbah, merupakan benih-benih yang jatuh ke bumi di padang pasir. Kata ini ditujukan kepada benih-benih di padang pasir tersebut (al-hibb), karena cinta itu sebagai sumber kehidupan sebagaimana benih-benih itu merupakan asal mula tanaman. Tokoh lain menyatakan, al-mahabbah itu diambil dari al-hubb, yang berarti sebuah tempayan penuh dengan air tenang, karena jika cinta itu berpadu di dan memenuhi hati, maka tak ada ruang bagi pikiran tentang selain yang dicintai. Kata al-Syiblī, cinta itu dinamakan al-mahabbah, karena ia menghapus dari hati, segala sesuatu kecuali yang dicintainya. Kata tokoh lain, al-mahabbah diturunkan dari al-habb, jamak al-habbah, dan al-habbah itu relung hati di mana cinta bersemayam. Sumber lain menuturkan, kata itu diturunkan dari al-habab, yaitu gelembung-gelembung air dan luapan-luapannya waktu hujan lebat, karena cinta itu luapan hati yang merindukan persatuan dengan kekasih. Ini sebagaimana badan bisa hidup, karena ada ruh, begitu pula hati dapat hidup karena ada cinta, dan cinta bisa hidup, karena melihat dan bersatu dengan kekasih.
Sementara itu, menurut Harun Nasution, al-mahabbah adalah cinta dan yang dimaksud ialah cinta kepada Tuhan. Pengertian yang diberikan kepada mahabbah antara lain: (a.) Memeluk kepatuhan pada Tuhan dan membenci sikap melawan pada-Nya; (b.) Menyerahkan seluruh diri kepada yang dikasihi; dan (c.) Mengosongkan hati dari segala-galanya kecuali dari diri yang dikasihi.
Menurut Margaret Smith, Rābi’ah adalah orang pertama yang menyatakan doktrin cinta tanpa pamrih kepada Allah. Di dalam sejarah perkembangan tasawuf, hal ini merupakan konsepsi baru di kalangan para sufi kala itu. Untuk mengetahui lebih jauh tentang konsepsi al-mahabbah atau al-hubb menurut Rābi’ah, akan ditelusuri pernyataannya tentang cinta.
Pada suatu ketika, Rābi’ah ditanya pendapatnya tentang batasan konsepsi cinta. Rābi’ah menjawab :
“Cinta berbicara dengan kerinduan dan perasaan. Mereka yang merasakan cinta saja yang dapat mengenal apa itu cinta. Cinta tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Tak mungkin orang dapat menjelaskan sesuatu yang belum dikenalnya. Atau mengenali sesuatu yang belum pernah digaulinya. Cinta tak mungkin dikenal lewat hawa nafsu terlebih bila tuntutan cinta itu dikesampingkan. Cinta bisa membuat orang jadi bingung, akan menutup untuk menyatakan sesuatu. Cinta mampu menguasai hati.”
Rābi’ah juga membagi cinta menjadi dua macam. Pertama, cinta yang dapat membahagiakannya, dan kedua, cinta yang menjadi hak Allah. Pembagian ini dapat dilihat dalam syairnya :
أُحِبُّكَ حُبَّيْنِ حُبُّ الْهَوَى # وَحُبُّ لَأَنَّكَ أَهْلٌ لِذَاكَ
فَأَمَّا الَّذِيْ هُوَ حُبُّ الْهَوَى # فَشُغْلِيْ بِذِكْرِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
وَأَمَّا الَّذِيْ أَنْتَ أَهْلٌ لَهُ # فَكَشْفُكَ لِيَ الْحِجَابُ حَتَّى أَرَاكَ
فَلاَ الْحَمْدُ فِيْ ذَا وَلاَ ذَاكَ لِيْ # وَلَكِنَّ لَكَ الْحَمْدُ فِيْ ذَا وَذَاكَ
“Aku mencintaimu dengan dua cinta, cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu. Adapun cinta karena diriku adalah keadaanku yang selalu mengingat-Mu. Adapun cinta karena diri-Mu adalah keadaan-Mu mengungkapkan tabir hingga Engkau kulihat. Baik untuk ini maupun untuk itu, pujian bukanlah bagiku, bagi-Mulah pujian baik untuk ini maupun untuk itu.”
Bagi Rābi’ah, ibadah bukan untuk masuk surga atau menghindari neraka, tetapi untuk berjumpa dengan yang dicintai, yaitu Allah semata. Ini dapat dilihat pada :
إِلَهِيْ هَذَا اللَّيْلُ قَدْ أَدْبَرَ وَهَذَا النَّهَارُ قَدْ أَسْفَرَ فَلَيْتَ شَعْرِى أَقْبَلْتَ مِنْ لَيْلَتِى فَأَهْنَأَ أَمْ رَدَدْتَهَا فَأَعْزَى فَوَعَزْتُكَ هَذَا دَأْبِى مَا أَحْيَيْتَنِى وَأَعْنَتَنِى، وَعِزَّتُكَ لَوْ طَرِدْتَنِى عَنْ بَابِكَ مَا بَرِحْتُ عَنْهُ لِمَا وَقَعَ فِى قَلْبِى مَنْ مَحَبَّتِكَ
“Tuhanku, malam telah berlalu dan siang telah menampakkan diri. Aku gelisah, apakah amalku Engkau terima hingga aku merasa gembira atau Engkau tolak hingga aku merasa sedih? Demi Mahakuasa-Mu inilah yang aku lakukan selama aku Engkau beri hayat. Sekiranya Engkau mengusir aku dari depan pintu-Mu, aku tidak akan pergi, karena cintaku pada-Mu telah memenuhi hatiku.”
Atau, dalam pernyataannya yang lain :
بِأَنِّي مَا عَبَدْتُ اللهَ حُبًّا فِى جَنَّتِهِ وَلاَ خَوْفًا مِنْ نَارِهِ بَلْ عَبَدْتُهُ حُبًّا لَهُ وَشَوْقًا إِلَيْهِ
“Sesungguhnya aku tidak menyembah Allah karena mencintai surga-Nya, dan bukan pula takut neraka-Nya, tetapi aku menyembah-Nya karena mencintai-Nya dan merindukan-Nya.”
Bagi Rābi’ah, mahabbah merupakan maqām tertinggi dalam kesufiannya. Tahapan-tahapan kesufian Rābi’ah ialah taubah, zuhud, ridla, muraqabah, dan terakhir, mahabbah. Bagi Rābi’ah, cinta kepada Allah merupakan pendorong segala aktivitasnya. Dalam hidupnya di dunia ini, dia hanya ingin mengingat Tuhan dan di akhirat nanti, dia hanya ingin bertemu dengan Tuhan. Hati Rābi’ah telah dipenuhi oleh rasa cinta sampai tak ada ruang untuk membenci sesuatu, termasuk kepada setan. Hal ini tercetus sewaktu ditanya tentang setan, dia menjawab, “Tidak (benci), cintaku kepada Tuhan tidak meninggalkan ruang kosong dalam diriku untuk rasa benci pada setan.” Tentang cintanya kepada Nabi Muhammad Saw., dia menyatakan,” Saya cinta kepada Nabi, tetapi cintaku kepada Sang Pencipta memalingkan diriku dari cinta kepada makhluk.”
Wallāhu a’lam.
DAFTAR PUSTAKA
Ardani, Mohammad. Akhlak-Tasawuf: Nilai-nilai Akhlak/Budi Pekerti dalam Ibadat dan Tasawuf. Jakarta: 2005.
Asyhari, Muhammad. Tafsir Cinta: Tebarkan Kebajikan dengan Spirit Alquran. Jakarta: Hikmah, 2006.
Khamis, Muhammad Atiyah. Rabi’ah al-Adawiyah: Penyair Wanita Sufi, Penerjemah Aliudin Mahjuddin. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994.
al-Naisābūrī, ‘Abd al-Karīm Hawazin al-Qusyairī. Risalah Qusyairiyah: Sumber Kajian Ilmu Tasawuf, Penerjemah Umar Faruq. Jakarta: Pustaka Amani, 1998.
Nasution, Harun. Falsafah dan Mistisisme dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1992.
Smith, Margaret. Rabi’ah al-Adawiyah: Pergulatan Spiritual Perempuan, Penerjemah Jamilah Baraja. Surabaya: Risalah Gusti, 2001.
al-Sulami, Abū ‘Abdurrahmān. Sufi-sufi Wanita: Tradisi yang Tercadari, Penerjemah Ahsin Mohammad. Bandung: Pustaka Hidayah, 2004.
TIGA KALIMAT MUNAJAT ABU SULAIMAN AD-DARANI
TIGA KALIMAT MUNAJAT ABU SULAIMAN AD-DARANI
Nama asli Abu Sulaiman Ad-Darani adalah ‘Abdurrahman bin ‘Athiyah, sedangkan Ad-Darani berasal dari kata Daran, yakni nama sebuah tempat di kota Damaskus-Syiria. Beliau meninggal pada tahun 215 H. beliau pernah berkata dalam munajatnya kepada Allah sebagai berikut:
1. Wahai Tuhanku, jika Engkau menuntutku karena dosaku, maka aku akan mencari-Mu karena ampunan-Mu (sebab ampunan-Mu jauh lebih luas daripada dosaku).
2. Jika Engkau menuntutku karena kekikiranku, maka aku akan mencari-Mu karena kemurahan-Mu.
3. Jika Engkau melemparkan aku ke dalam neraka, maka aku akan memberitahukan kepada penduduk neraka bahwa aku mencintai-Mu.
Nama asli Abu Sulaiman Ad-Darani adalah ‘Abdurrahman bin ‘Athiyah, sedangkan Ad-Darani berasal dari kata Daran, yakni nama sebuah tempat di kota Damaskus-Syiria. Beliau meninggal pada tahun 215 H. beliau pernah berkata dalam munajatnya kepada Allah sebagai berikut:
1. Wahai Tuhanku, jika Engkau menuntutku karena dosaku, maka aku akan mencari-Mu karena ampunan-Mu (sebab ampunan-Mu jauh lebih luas daripada dosaku).
2. Jika Engkau menuntutku karena kekikiranku, maka aku akan mencari-Mu karena kemurahan-Mu.
3. Jika Engkau melemparkan aku ke dalam neraka, maka aku akan memberitahukan kepada penduduk neraka bahwa aku mencintai-Mu.
Senin, 16 Maret 2009
Intisari Iman
Intisari Iman*
Oleh Ansori
Pada dasarnya, iman yang ideal dan dapat dijadikan sarana perbaikan utama harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan Allah SWT serta memilki ciri-ciri yang digariskan Rasul-Nya.
Iman adalah proses kejiwaan yang berhubungan dengan segenap dimensi rohani, yang meliputi akal, keinginan, dan perasaan manusia. Oleh karena itu, dalam iman perlu adanya getaran jiwa yang dengan itu seseorang bisa menyingkap hakikat wujud sesuai dengan kenyataan yang ada. Hakikat wujud ini tidak mungkin dapat tersingkap kecuali melalui wahyu ilahi yang suci.
Dalam hal ini, pemahaman atau penyingkapan akal harus mencapai batas kepastian, keyakinan yang kokoh dan tak tergoyahkan, serta tidak dicemari keraguan dan kekaburan sedikitpun. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu” (QS Alhujurat [49]: 15).
Pemahaman dan pengetahuan yang kokoh ini harus diiringi kesadaran hati dan keinginan yang terwujud pada sikap tunduk dan taat pada hukum Allah SWT, serta kerelaan atas keputusan-Nya dan penyerahan diri kepad-Nya. “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hinggga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima sepenuhnya” (QS Annisa’[4]: 65).
Kesadaran semacam ini, menurut Yusuf Qardawi merupakan kecenderungan hati yang dapat menjadikan seseorang berbuat sesuai dengan tuntutan akidah, berpegang teguh pada prinsip-prinsip akhlak dan amal saleh, serta berjihad di jalan Allah SWT dengan harta dan jiwanya.
Pada dasarnya, iman yang dituntut untuk dihidupkan bukan hanya sekedar syiar yang digemakan atau dakwah yang dikumandangkan. Iman yang dimaksud adalah aturan kehidupan yang sempurna bagi individu dan umat manusia. Selain itu, dapat pula menjadi cahaya benderang yang menerangi pikiran, perasaan, dan keinginan seseorang dalam kehidupannya.
Iman yang benar dan lurus juga akan menerangi kehidupan masyarakat dengan pancaran cahayanya. Selain itu, dapat pula memberikan pengaruh luar biasa terhadap seluruh dimensi kehidupan serta menjadikan manusia menyandang ciri ketuhanan, baik dalam hal pemikiran, pemahaman, perasaan, akhlak, maupun aturan.
Dalam hal ini, iman seperti itu akan mengubah manusia dari sosok yang hina dan lemah menjadi makhluk Tuhan yang memiliki tekad, misi, tujuan, kemuliaan dan kekuatan.
Oleh Ansori
Pada dasarnya, iman yang ideal dan dapat dijadikan sarana perbaikan utama harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan Allah SWT serta memilki ciri-ciri yang digariskan Rasul-Nya.
Iman adalah proses kejiwaan yang berhubungan dengan segenap dimensi rohani, yang meliputi akal, keinginan, dan perasaan manusia. Oleh karena itu, dalam iman perlu adanya getaran jiwa yang dengan itu seseorang bisa menyingkap hakikat wujud sesuai dengan kenyataan yang ada. Hakikat wujud ini tidak mungkin dapat tersingkap kecuali melalui wahyu ilahi yang suci.
Dalam hal ini, pemahaman atau penyingkapan akal harus mencapai batas kepastian, keyakinan yang kokoh dan tak tergoyahkan, serta tidak dicemari keraguan dan kekaburan sedikitpun. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu” (QS Alhujurat [49]: 15).
Pemahaman dan pengetahuan yang kokoh ini harus diiringi kesadaran hati dan keinginan yang terwujud pada sikap tunduk dan taat pada hukum Allah SWT, serta kerelaan atas keputusan-Nya dan penyerahan diri kepad-Nya. “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hinggga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima sepenuhnya” (QS Annisa’[4]: 65).
Kesadaran semacam ini, menurut Yusuf Qardawi merupakan kecenderungan hati yang dapat menjadikan seseorang berbuat sesuai dengan tuntutan akidah, berpegang teguh pada prinsip-prinsip akhlak dan amal saleh, serta berjihad di jalan Allah SWT dengan harta dan jiwanya.
Pada dasarnya, iman yang dituntut untuk dihidupkan bukan hanya sekedar syiar yang digemakan atau dakwah yang dikumandangkan. Iman yang dimaksud adalah aturan kehidupan yang sempurna bagi individu dan umat manusia. Selain itu, dapat pula menjadi cahaya benderang yang menerangi pikiran, perasaan, dan keinginan seseorang dalam kehidupannya.
Iman yang benar dan lurus juga akan menerangi kehidupan masyarakat dengan pancaran cahayanya. Selain itu, dapat pula memberikan pengaruh luar biasa terhadap seluruh dimensi kehidupan serta menjadikan manusia menyandang ciri ketuhanan, baik dalam hal pemikiran, pemahaman, perasaan, akhlak, maupun aturan.
Dalam hal ini, iman seperti itu akan mengubah manusia dari sosok yang hina dan lemah menjadi makhluk Tuhan yang memiliki tekad, misi, tujuan, kemuliaan dan kekuatan.
*Tulisan ini pernah dimuat di kolom Hikmah harian umum REPUBLIKA pada hari Rabu, 11 Maret 2009
Selasa, 03 Maret 2009
Ketika Fir’aun Hendak Membunuh Tuhan Musa
Ketika Fir’aun Hendak Membunuh Tuhan Musa
Diceritakan bahwa suatu ketika Ramses II, atau yang lebih dikenal dengan Fir’aunnya Nabi Musa, memerintah Haman, menteri yang menjadi tangan kanannya, untuk membangun sebuah bangunan pencakar langit tertinggi, yang belum pernah dibuat peradaban manapun di muka bumi.
Haman, sang menteri yang menangani pembangunan di negeri Mesir pun tanggap, dan mengerahkan 50.000 pekerjanya untuk segera merealisasikan amanat sang raja.
Begitu ‘mega proyek’ itu rampung, Fir’aun lantas menaiki puncak bangunan dengan membawa busur. Ia lalu memanah kea rah langit. Anak panah itu pun melesat, menembus angkasa.
Tak lama berselang, anak panah itu jatuh dalam keadaan berlumuran darah. Melihat hal itu, fir’aun girang bukan kepalang, dengan penuh kesombongan ia berkata: “Aku telah membunuh Tuhan Musa!”
Allah murka dengan kesombongan Fir’aun. Menjelang matahari terbenam, Allah mengutus Jibril untuk mengepakkan kedua sayapnya menghantam bangunan itu, dan membelahnya menjadi tiga bagian. Bagian pertama menggilas pasukan Fir’aun dan menewaskan sejuta prajurit. Bagian kedua jatuh ke dalam laut. Dan yang terakhir terhempas jauh ke arah barat.
Begitulah Allah menunjukkan kemahaperkasaannya dengan mengirim azab yang mengacaukan mega proyek Fir’aun. Semua orang yang terlibat dalam pembangunan itu juga tak luput dari azab, semuanya tewas.
Sumber: Tafsir Al-Qurtubi dan Tafsir Fakhr ar-Razi.
Diceritakan bahwa suatu ketika Ramses II, atau yang lebih dikenal dengan Fir’aunnya Nabi Musa, memerintah Haman, menteri yang menjadi tangan kanannya, untuk membangun sebuah bangunan pencakar langit tertinggi, yang belum pernah dibuat peradaban manapun di muka bumi.
Haman, sang menteri yang menangani pembangunan di negeri Mesir pun tanggap, dan mengerahkan 50.000 pekerjanya untuk segera merealisasikan amanat sang raja.
Begitu ‘mega proyek’ itu rampung, Fir’aun lantas menaiki puncak bangunan dengan membawa busur. Ia lalu memanah kea rah langit. Anak panah itu pun melesat, menembus angkasa.
Tak lama berselang, anak panah itu jatuh dalam keadaan berlumuran darah. Melihat hal itu, fir’aun girang bukan kepalang, dengan penuh kesombongan ia berkata: “Aku telah membunuh Tuhan Musa!”
Allah murka dengan kesombongan Fir’aun. Menjelang matahari terbenam, Allah mengutus Jibril untuk mengepakkan kedua sayapnya menghantam bangunan itu, dan membelahnya menjadi tiga bagian. Bagian pertama menggilas pasukan Fir’aun dan menewaskan sejuta prajurit. Bagian kedua jatuh ke dalam laut. Dan yang terakhir terhempas jauh ke arah barat.
Begitulah Allah menunjukkan kemahaperkasaannya dengan mengirim azab yang mengacaukan mega proyek Fir’aun. Semua orang yang terlibat dalam pembangunan itu juga tak luput dari azab, semuanya tewas.
Sumber: Tafsir Al-Qurtubi dan Tafsir Fakhr ar-Razi.
Detik-Detik Kelahiran Rasulullah SAW
Detik-Detik Kelahiran Rasulullah SAW
Yang jelas Rasulullah SAW lahir pada hari senin, di tahun penyerbuan Abrahah ke Mekkah. Mengenai tanggal lahirnya masih terjadi perbedaan pendapat yang sangat banyak. Yang biasa dipakai di Indonesia adalah pendapat Abu Ishaq 12 Rabi’ul awal.
Kelahiran Rasulullah SAW, ada yang menyatakan terjadi pada saat terbitnya fajar. Sebagaian lagi menyatakan terjadi di siang hari. Tempat lahirnya di Mekkah, tepatnya di Zuqaq al-Maulid (lorong kelahiran) di Syi’ib Bani Hasyim. Selain itu, ada yang menyatakan di Radm dan ‘Usfan.
Zuqaq al-Maulid ini akhirnya dihibahkan oleh Rasulullah kepada Aqil bin Abi Thalib, saudara Ali bin Abi Thalib ra. Setelah Aqil meninggal, Zuqaq al-Maulid ini dijual oleh putera Aqil kepada Muhammad bin Yusuf, saudara dari Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi (panglima Abdul Malik bin Marwan yang terkenal kejam dan pernah menghancurkan Ka’bah dengan hantaman manjaniq).
Detik-detik kelahiran Rasulullah SAW menyimpan banyak fenomena yang menjadi tanda pra dari kenabian dan keagungan beliau (irhash). Ada yang terjadi di rumah atau di lokasi kelahiran, adapula yang terjadi di temapt yang jauh seperti yang terjadi di Persia dan Yatsrib.
Di antara fenomena alam yang terjadi di lokasi kelahiran Rasulullah SAW adalah ada bintang yang mendekat ke Syi’ib Bani Hasyim. Utsman bin Abi al-Ash mendapat cerita dari ibunya, bahwa ia menyksikan malam kelahiran Rasulullah SAW. Ibu Utsman berkata: “Tidak ada yang aku lihat dari rumah itu kecuali cahaya. Aku melihat bintang-bintang mendekat, hingga aku berkata: ‘Akan jatuh kepadaku’. Ketika ia terlahir, keluar dari Aminah cahaya yang membuat rumah itu terang benderang, sehingga yang aku lihat hanyalah cahaya.”
Ibu susu Rasulullah SAW, Halimah as-Sa’diyah, pernah diberi tahu oleh Sayyidah Aminah mengenai kelahiran Rasulullah SAW: “Sesungguhnya anakku ini memiliki keagungan. Aku mengandungnya, lalu tidak kandungan yang lebih ringan bagiku dan lebih besar berkahnya. Ketika aku melahirkannya, aku melihat cahaya seperti kilatan bintang yang menyinari untukku unta-unta di Bushra (Syam/Syiria). Lalu aku melahirkannya, maka ia jatuh tidak seperti bayi-bayi (yang lain). Ia jatuh sambil meletakkan tangannya ke tanah dan mengangkat kepalanya ke langit.”
Keluarnya cahaya yang menerangi istana-istana Romawi di Bushra (Syiria/Syam) diriwayatkan dengan sanad yang sangat banyak. Ada bebearapa yang shahih. Mengenai makna cahaya itu, terdapat beberapa penafsiran. Ada yang menyatakan bahwa cahaya di Syam itu merupakan isyarat akan keistimewaan Syam dalam Islam. Dalam perjalanan sejarah pasca wafatnya Rasulullah SAW, memang kenyataannya Syam menjadi negeri yang membawa bendera keagungan Islam. Setelah Khalifah Umar berhasil menaklukkan Damaskus, Palestina dan kota-kota penting lainnya di Syam, maka sejak itu Syam menjadi pusat kekuatan untuk menghabisi Romawi. Dari Syam lahir penaklukan Afrika Selatan, Afrika Barat, Spanyol, Portugal dan Prancis Barat.
Memang, seperti yang disebutkan oleh Ka’ab al-Ahbar, seorang Yahudi yang kemudian masuk Islam, bahwa dalam kitab-kitab sebelum Islam, disebutkan: “Muhammad Rasulullah, lahirnya di Mekah, tempat hijrahnya Yatsrib dan kerajaannya di Syam.” Paca al-Khulafa’ ar-Rasyidun, kerajaan Islam berpusat di Damaskus di bawah kendali Bani Umayyah.
Adapun yang menafsirkan bahwa cahaya ke istana Bushra itu adalah sebagai tanda bahwa Rasulullah SAW menerangi mata hati dan menghidupkan hati yang mati. Adapula yang menyatakan sebagai isyarat bahwa yang dibawa oleh beliau adalah cahaya yang menunjukkan manusia dan menghilangkan kegelapan syirik. Sebab, dalam riwayat lain, disebutkan bahwa cahaya itu tidak hanya menerangi istana Bushra, tapi juga menerangi apa yang berada di antara timur dan barat.
Al-Imam Abu Syamah berkata: “Keluarnya cahaya ketika Rasulullah SAW lahir sudah sangat masyhur di Qurays dan banyak dibicarakan oleh mereka.”
Selain keluarnya cahaya, gabungan dari berbagai riwayat menyebutkan bahwa beliau lahir dalam keadaan berlutut, telapak tangannya di tanah, lalu menggenggam debu, jari telunjuknya memberi isyarat seperti orang yang membaca tasbih, matanya memandang ke langit, kemudian menurunkan tubuhnya seperti orang yang sujud.
Mengenai genggaman debu dan pandangan ke langit, seorang dari Klan Lahab yang mendengar cerita ini bilang kepada temannya: “Selamatkan dia. Jika tanda ini benar, maka bayi ini akan menguasai penduduk bumi.”
Adapula yang menyatakan bahwa pandangan ke langit menandakan ketinggian derajat beliau, menjadi pemimpin umat manusia, selalu menuju kepada yang lebih tinggi, dan derajat serta hal-ihwalnya yang lain terus meninggi.
Sedangkan mengenai sujudnya beliau merupakan tanda pra, bahwa sejak awal, hidup Rasulullah SAW adalah taqarrub kepada Allah SWT.
Yang jelas Rasulullah SAW lahir pada hari senin, di tahun penyerbuan Abrahah ke Mekkah. Mengenai tanggal lahirnya masih terjadi perbedaan pendapat yang sangat banyak. Yang biasa dipakai di Indonesia adalah pendapat Abu Ishaq 12 Rabi’ul awal.
Kelahiran Rasulullah SAW, ada yang menyatakan terjadi pada saat terbitnya fajar. Sebagaian lagi menyatakan terjadi di siang hari. Tempat lahirnya di Mekkah, tepatnya di Zuqaq al-Maulid (lorong kelahiran) di Syi’ib Bani Hasyim. Selain itu, ada yang menyatakan di Radm dan ‘Usfan.
Zuqaq al-Maulid ini akhirnya dihibahkan oleh Rasulullah kepada Aqil bin Abi Thalib, saudara Ali bin Abi Thalib ra. Setelah Aqil meninggal, Zuqaq al-Maulid ini dijual oleh putera Aqil kepada Muhammad bin Yusuf, saudara dari Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi (panglima Abdul Malik bin Marwan yang terkenal kejam dan pernah menghancurkan Ka’bah dengan hantaman manjaniq).
Detik-detik kelahiran Rasulullah SAW menyimpan banyak fenomena yang menjadi tanda pra dari kenabian dan keagungan beliau (irhash). Ada yang terjadi di rumah atau di lokasi kelahiran, adapula yang terjadi di temapt yang jauh seperti yang terjadi di Persia dan Yatsrib.
Di antara fenomena alam yang terjadi di lokasi kelahiran Rasulullah SAW adalah ada bintang yang mendekat ke Syi’ib Bani Hasyim. Utsman bin Abi al-Ash mendapat cerita dari ibunya, bahwa ia menyksikan malam kelahiran Rasulullah SAW. Ibu Utsman berkata: “Tidak ada yang aku lihat dari rumah itu kecuali cahaya. Aku melihat bintang-bintang mendekat, hingga aku berkata: ‘Akan jatuh kepadaku’. Ketika ia terlahir, keluar dari Aminah cahaya yang membuat rumah itu terang benderang, sehingga yang aku lihat hanyalah cahaya.”
Ibu susu Rasulullah SAW, Halimah as-Sa’diyah, pernah diberi tahu oleh Sayyidah Aminah mengenai kelahiran Rasulullah SAW: “Sesungguhnya anakku ini memiliki keagungan. Aku mengandungnya, lalu tidak kandungan yang lebih ringan bagiku dan lebih besar berkahnya. Ketika aku melahirkannya, aku melihat cahaya seperti kilatan bintang yang menyinari untukku unta-unta di Bushra (Syam/Syiria). Lalu aku melahirkannya, maka ia jatuh tidak seperti bayi-bayi (yang lain). Ia jatuh sambil meletakkan tangannya ke tanah dan mengangkat kepalanya ke langit.”
Keluarnya cahaya yang menerangi istana-istana Romawi di Bushra (Syiria/Syam) diriwayatkan dengan sanad yang sangat banyak. Ada bebearapa yang shahih. Mengenai makna cahaya itu, terdapat beberapa penafsiran. Ada yang menyatakan bahwa cahaya di Syam itu merupakan isyarat akan keistimewaan Syam dalam Islam. Dalam perjalanan sejarah pasca wafatnya Rasulullah SAW, memang kenyataannya Syam menjadi negeri yang membawa bendera keagungan Islam. Setelah Khalifah Umar berhasil menaklukkan Damaskus, Palestina dan kota-kota penting lainnya di Syam, maka sejak itu Syam menjadi pusat kekuatan untuk menghabisi Romawi. Dari Syam lahir penaklukan Afrika Selatan, Afrika Barat, Spanyol, Portugal dan Prancis Barat.
Memang, seperti yang disebutkan oleh Ka’ab al-Ahbar, seorang Yahudi yang kemudian masuk Islam, bahwa dalam kitab-kitab sebelum Islam, disebutkan: “Muhammad Rasulullah, lahirnya di Mekah, tempat hijrahnya Yatsrib dan kerajaannya di Syam.” Paca al-Khulafa’ ar-Rasyidun, kerajaan Islam berpusat di Damaskus di bawah kendali Bani Umayyah.
Adapun yang menafsirkan bahwa cahaya ke istana Bushra itu adalah sebagai tanda bahwa Rasulullah SAW menerangi mata hati dan menghidupkan hati yang mati. Adapula yang menyatakan sebagai isyarat bahwa yang dibawa oleh beliau adalah cahaya yang menunjukkan manusia dan menghilangkan kegelapan syirik. Sebab, dalam riwayat lain, disebutkan bahwa cahaya itu tidak hanya menerangi istana Bushra, tapi juga menerangi apa yang berada di antara timur dan barat.
Al-Imam Abu Syamah berkata: “Keluarnya cahaya ketika Rasulullah SAW lahir sudah sangat masyhur di Qurays dan banyak dibicarakan oleh mereka.”
Selain keluarnya cahaya, gabungan dari berbagai riwayat menyebutkan bahwa beliau lahir dalam keadaan berlutut, telapak tangannya di tanah, lalu menggenggam debu, jari telunjuknya memberi isyarat seperti orang yang membaca tasbih, matanya memandang ke langit, kemudian menurunkan tubuhnya seperti orang yang sujud.
Mengenai genggaman debu dan pandangan ke langit, seorang dari Klan Lahab yang mendengar cerita ini bilang kepada temannya: “Selamatkan dia. Jika tanda ini benar, maka bayi ini akan menguasai penduduk bumi.”
Adapula yang menyatakan bahwa pandangan ke langit menandakan ketinggian derajat beliau, menjadi pemimpin umat manusia, selalu menuju kepada yang lebih tinggi, dan derajat serta hal-ihwalnya yang lain terus meninggi.
Sedangkan mengenai sujudnya beliau merupakan tanda pra, bahwa sejak awal, hidup Rasulullah SAW adalah taqarrub kepada Allah SWT.
Langganan:
Postingan (Atom)