Minggu, 25 Oktober 2009

RĀBI’AH AL-‘ADAWIYAH: MAHABBAH

RĀBI’AH AL-‘ADAWIYAH: MAHABBAH

1. Biografi Singkat Rābi’ah al-‘Adawiyah
Rābi’ah al-‘Adawiyah dilahirkan pada tahun 95 H/714 M atau 99 H/717-718 dan meninggal dunia di kota kelahirannya, Bashrah, pada tahun 185 H/801 M. Beliau dilahirkan di suatu perkampungan di Bashrah (Irak). Kedua orang tuanya berasal dari keluarga fakir dan sudah meninggal saat Rābi’ah masih muda. Meski orang tua Rābi’ah fakir, pendidikan agama pada keluarganya sangatlah dipentingkan. Rābi’ah telah terbiasa dididik dengan akhlak mulia. Sejak kecil, Rābi’ah selalu ikut kegiatan ibadah orang tuanya, baik itu ibadah mahdlah atau hanya sekadar membaca Alquran dan berzikir.
Sejak kecil pula Rābi’ah telah dapat merasakan keadaan orang tuanya, seperti seseorang yang telah dewasa merasakannya. Ia menjadi pendiam, tidak menuntut terlalu banyak dari orang tuanya seperti kebanyakan gadis kecil yang sedang beranjak dewasa. Jika sedang menghadapi hidangan makanan, ia tidak memperlihatkan kerakusannya, tetapi hanya mengambil sekadarnya saja. Selesai makan, tidak lupa ia mengucapkan puji syukur ke hadirat Allah Swt., seperti yang juga dilakukan oleh kedua orang tuanya. Selain itu, Rābi’ah mengambil teladan dari kedua orang tuanya dan dari saudara-saudaranya yang lain, mengenai ajaran agama Islam dan sifat-sifat keutamaan. Pernah Rābi’ah mendengar lafal-lafal doa itu tidak pernah hilang dari ingatannya karena selalu diulang-ulang dalam doanya.
Dalam kehidupan sehari-hari, ia selalu memerhatikan bagaimana ayahnya melakukan ibadah kepada Allah, antara lain dengan membaca Quran dan berzikir; ia pun selalu melakukan ibadah kepada Allah sesuai dengan yang telah dilihat dan didengarnya dari ayahnya. Rābi’ah juga sangat suka belajar menghafal ayat-ayat Alquran. Bila telah berhasil menghafalnya, ia duduk dan menghafalnya kembali dengan perasaan khusyuk, iman yang mendalam, dan pemahaman yang sempurna. Melihat hal ini, tak kuasa ayahnya menahan air mata. Ia sendiri tak tahu, apakah ini air mata gembira, atau air mata terharu, atau perasaan khusyuk.
Tidak jarang pula ayah Rābi’ah melihat putrinya mengasingkan diri, bermuka muram dan sedih, selalu dalam keadaan terjaga untuk beribadat kepada Allah, tak ubahnya tokoh-tokoh sufi yang telah terkenal. Pada suatu malam, ayahnya meninggalkan dia yang sedang membaca Alquran, menghadap kiblat sambil berdoa dengan menengadahkan tangannya, lalu menyapu mukanya dengan kedua tangannya, setelah ia selesai berdoa. Dalam keadaan seperti ini, hidup dalam suasana keimanan, peribadatan dan zuhud, Rābi’ah seolah-olah telah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi tantangan zaman, seperti kekacauan, pergolakan, dan cobaan yang akan menimpa dirinya. Dalam usianya yang masih sangat muda, ayah Rābi’ah berpulang ke rahmatullah, yang kemudian disusul oleh ibunya. Dengan demikian, sejak kecil ia telah merasa pahitnya penderitaan sebagai anak yatim, yang hidup dalam kemiskinan.
Menurut Muhammad Atiyah Khamis, setelah kedua orang tua Rābi’ah wafat, ia jatuh ke tangan perampok karena dihadang segerombolan penyamun, kemudian dia dijual sebagai hamba sahaya dengan harga yang sangat murah, yaitu 6 dirham. Pedagang yang telah membeli Rābi’ah sebagai hamba sahaya memperlakukannya secara tidak manusiawi. Ia bertindak sebagai orang yang kasar dan bengis, tanpa pandang bulu, bahkan kepada wanita yatim-piatu seperti Rābi’ah. Namun Rābi’ah menghadapi semua cobaan itu dengan segala kekuatan imannya. Kebengisan pedagang itu tidak menjadikannya putus asa, tetapi justru semakin mengokohkan imannya. Ia mengisi hari-harinya dengan berbagai macam kesibukan. Jika pada siang hari ia harus membanting tulang melakukan berbagai macam pekerjaan yang dibebankan tuannya kepadanya, maka pada malam hari ia mengisi waktunya dengan beribadah kepada Allah. Ia selalu berdoa, bermunajat pada Allah, memohon ampunan dan rida-Nya.
Suatu ketika, Rābi’ah berdoa dan mendirikan salat. Pedagang yang menjadi majikannya tiba-tiba melihat sebuah lentera berayun-ayun di atas kepala Rābi’ah, tanpa tali yang menahannya. Yang lebih mengherankan pedagang itu, cahaya lentera itu memancar ke seluruh kamar, sehingga menimbulkan ketakutan di hati majikan Rābi’ah. Semalaman ia tidak dapat memejamkan matanya, berusaha mencari jawaban atas peristiwa yang hampir tak dapat dipercayainya. Ketika fajar menyingsing, pedagang itu mendatangi Rābi’ah, dan berkata: “Rābi’ah, aku memberikan kebebasan kepadamu. Jika engkau mau, engkau boleh tinggal di sini. Kami semua akan menyediakan segala keperluanmu. Namun, kau bebas untuk menentukan pilihanmu, jika kau memang ingin meninggalkan kami.” Begitu mendengar perkataan tuannya, Rābi’ah segera bangkit, lalu mengucapkan selamat tinggal kepada tuannya, dan segera berangkat. Sejak itu, Rābi’ah telah menjadi orang yang merdeka.
Rābi’ah mencapai usia delapan puluhan tahun. Bukan hanya semata-mata tahun yang panjang, tapi waktu yang penuh dengan berkat hidup yang menyebar ke sekitarnya atau seperti dikatakan Louis Massignon, suatu kehidupan yang menyebarkan wangi yang semerbak ke daerah sekitarnya dan cinta yang tak pernah padam.

2. Konsep Mahabbah dalam Pandangan Rābi’ah al-‘Adawiyah
Kata “mahabbah”, atau “al-hubb”, menurut al-Qusyairī, adalah diambil dari kata habab (gelembung air) yang selalu di atas air, karena cinta merupakan puncak segalanya dalam hati. Juga merupakan sesuatu yang melambung di atas air ketika hujan turun. Di atas cinta ini hati terasa mendidih dan semakin meluap saat haus serta berkobar kerinduannya untuk bertemu kekasihnya. Di samping itu, al-hubb diambil dari al-habb, sebagai bentuk jamak kata al-habbah (biji). Sedang biji hati, sebagai sesuatu yang berada dan menetap dalam hati, sehingga al-habb (biji-bijian) dinamakan al-hubb (cinta), karena yang dimaksud adalah tempatnya.
Menurut al-Hujwiri, al-mahabbah/al-hubb terambil dari kata al-hibbah, merupakan benih-benih yang jatuh ke bumi di padang pasir. Kata ini ditujukan kepada benih-benih di padang pasir tersebut (al-hibb), karena cinta itu sebagai sumber kehidupan sebagaimana benih-benih itu merupakan asal mula tanaman. Tokoh lain menyatakan, al-mahabbah itu diambil dari al-hubb, yang berarti sebuah tempayan penuh dengan air tenang, karena jika cinta itu berpadu di dan memenuhi hati, maka tak ada ruang bagi pikiran tentang selain yang dicintai. Kata al-Syiblī, cinta itu dinamakan al-mahabbah, karena ia menghapus dari hati, segala sesuatu kecuali yang dicintainya. Kata tokoh lain, al-mahabbah diturunkan dari al-habb, jamak al-habbah, dan al-habbah itu relung hati di mana cinta bersemayam. Sumber lain menuturkan, kata itu diturunkan dari al-habab, yaitu gelembung-gelembung air dan luapan-luapannya waktu hujan lebat, karena cinta itu luapan hati yang merindukan persatuan dengan kekasih. Ini sebagaimana badan bisa hidup, karena ada ruh, begitu pula hati dapat hidup karena ada cinta, dan cinta bisa hidup, karena melihat dan bersatu dengan kekasih.
Sementara itu, menurut Harun Nasution, al-mahabbah adalah cinta dan yang dimaksud ialah cinta kepada Tuhan. Pengertian yang diberikan kepada mahabbah antara lain: (a.) Memeluk kepatuhan pada Tuhan dan membenci sikap melawan pada-Nya; (b.) Menyerahkan seluruh diri kepada yang dikasihi; dan (c.) Mengosongkan hati dari segala-galanya kecuali dari diri yang dikasihi.
Menurut Margaret Smith, Rābi’ah adalah orang pertama yang menyatakan doktrin cinta tanpa pamrih kepada Allah. Di dalam sejarah perkembangan tasawuf, hal ini merupakan konsepsi baru di kalangan para sufi kala itu. Untuk mengetahui lebih jauh tentang konsepsi al-mahabbah atau al-hubb menurut Rābi’ah, akan ditelusuri pernyataannya tentang cinta.
Pada suatu ketika, Rābi’ah ditanya pendapatnya tentang batasan konsepsi cinta. Rābi’ah menjawab :
“Cinta berbicara dengan kerinduan dan perasaan. Mereka yang merasakan cinta saja yang dapat mengenal apa itu cinta. Cinta tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Tak mungkin orang dapat menjelaskan sesuatu yang belum dikenalnya. Atau mengenali sesuatu yang belum pernah digaulinya. Cinta tak mungkin dikenal lewat hawa nafsu terlebih bila tuntutan cinta itu dikesampingkan. Cinta bisa membuat orang jadi bingung, akan menutup untuk menyatakan sesuatu. Cinta mampu menguasai hati.”

Rābi’ah juga membagi cinta menjadi dua macam. Pertama, cinta yang dapat membahagiakannya, dan kedua, cinta yang menjadi hak Allah. Pembagian ini dapat dilihat dalam syairnya :
أُحِبُّكَ حُبَّيْنِ حُبُّ الْهَوَى # وَحُبُّ لَأَنَّكَ أَهْلٌ لِذَاكَ
فَأَمَّا الَّذِيْ هُوَ حُبُّ الْهَوَى # فَشُغْلِيْ بِذِكْرِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
وَأَمَّا الَّذِيْ أَنْتَ أَهْلٌ لَهُ # فَكَشْفُكَ لِيَ الْحِجَابُ حَتَّى أَرَاكَ
فَلاَ الْحَمْدُ فِيْ ذَا وَلاَ ذَاكَ لِيْ # وَلَكِنَّ لَكَ الْحَمْدُ فِيْ ذَا وَذَاكَ

“Aku mencintaimu dengan dua cinta, cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu. Adapun cinta karena diriku adalah keadaanku yang selalu mengingat-Mu. Adapun cinta karena diri-Mu adalah keadaan-Mu mengungkapkan tabir hingga Engkau kulihat. Baik untuk ini maupun untuk itu, pujian bukanlah bagiku, bagi-Mulah pujian baik untuk ini maupun untuk itu.”

Bagi Rābi’ah, ibadah bukan untuk masuk surga atau menghindari neraka, tetapi untuk berjumpa dengan yang dicintai, yaitu Allah semata. Ini dapat dilihat pada :
إِلَهِيْ هَذَا اللَّيْلُ قَدْ أَدْبَرَ وَهَذَا النَّهَارُ قَدْ أَسْفَرَ فَلَيْتَ شَعْرِى أَقْبَلْتَ مِنْ لَيْلَتِى فَأَهْنَأَ أَمْ رَدَدْتَهَا فَأَعْزَى فَوَعَزْتُكَ هَذَا دَأْبِى مَا أَحْيَيْتَنِى وَأَعْنَتَنِى، وَعِزَّتُكَ لَوْ طَرِدْتَنِى عَنْ بَابِكَ مَا بَرِحْتُ عَنْهُ لِمَا وَقَعَ فِى قَلْبِى مَنْ مَحَبَّتِكَ
“Tuhanku, malam telah berlalu dan siang telah menampakkan diri. Aku gelisah, apakah amalku Engkau terima hingga aku merasa gembira atau Engkau tolak hingga aku merasa sedih? Demi Mahakuasa-Mu inilah yang aku lakukan selama aku Engkau beri hayat. Sekiranya Engkau mengusir aku dari depan pintu-Mu, aku tidak akan pergi, karena cintaku pada-Mu telah memenuhi hatiku.”

Atau, dalam pernyataannya yang lain :
بِأَنِّي مَا عَبَدْتُ اللهَ حُبًّا فِى جَنَّتِهِ وَلاَ خَوْفًا مِنْ نَارِهِ بَلْ عَبَدْتُهُ حُبًّا لَهُ وَشَوْقًا إِلَيْهِ
“Sesungguhnya aku tidak menyembah Allah karena mencintai surga-Nya, dan bukan pula takut neraka-Nya, tetapi aku menyembah-Nya karena mencintai-Nya dan merindukan-Nya.”

Bagi Rābi’ah, mahabbah merupakan maqām tertinggi dalam kesufiannya. Tahapan-tahapan kesufian Rābi’ah ialah taubah, zuhud, ridla, muraqabah, dan terakhir, mahabbah. Bagi Rābi’ah, cinta kepada Allah merupakan pendorong segala aktivitasnya. Dalam hidupnya di dunia ini, dia hanya ingin mengingat Tuhan dan di akhirat nanti, dia hanya ingin bertemu dengan Tuhan. Hati Rābi’ah telah dipenuhi oleh rasa cinta sampai tak ada ruang untuk membenci sesuatu, termasuk kepada setan. Hal ini tercetus sewaktu ditanya tentang setan, dia menjawab, “Tidak (benci), cintaku kepada Tuhan tidak meninggalkan ruang kosong dalam diriku untuk rasa benci pada setan.” Tentang cintanya kepada Nabi Muhammad Saw., dia menyatakan,” Saya cinta kepada Nabi, tetapi cintaku kepada Sang Pencipta memalingkan diriku dari cinta kepada makhluk.”
Wallāhu a’lam.
DAFTAR PUSTAKA

Ardani, Mohammad. Akhlak-Tasawuf: Nilai-nilai Akhlak/Budi Pekerti dalam Ibadat dan Tasawuf. Jakarta: 2005.
Asyhari, Muhammad. Tafsir Cinta: Tebarkan Kebajikan dengan Spirit Alquran. Jakarta: Hikmah, 2006.
Khamis, Muhammad Atiyah. Rabi’ah al-Adawiyah: Penyair Wanita Sufi, Penerjemah Aliudin Mahjuddin. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994.
al-Naisābūrī, ‘Abd al-Karīm Hawazin al-Qusyairī. Risalah Qusyairiyah: Sumber Kajian Ilmu Tasawuf, Penerjemah Umar Faruq. Jakarta: Pustaka Amani, 1998.
Nasution, Harun. Falsafah dan Mistisisme dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1992.
Smith, Margaret. Rabi’ah al-Adawiyah: Pergulatan Spiritual Perempuan, Penerjemah Jamilah Baraja. Surabaya: Risalah Gusti, 2001.
al-Sulami, Abū ‘Abdurrahmān. Sufi-sufi Wanita: Tradisi yang Tercadari, Penerjemah Ahsin Mohammad. Bandung: Pustaka Hidayah, 2004.

TIGA KALIMAT MUNAJAT ABU SULAIMAN AD-DARANI

TIGA KALIMAT MUNAJAT ABU SULAIMAN AD-DARANI

Nama asli Abu Sulaiman Ad-Darani adalah ‘Abdurrahman bin ‘Athiyah, sedangkan Ad-Darani berasal dari kata Daran, yakni nama sebuah tempat di kota Damaskus-Syiria. Beliau meninggal pada tahun 215 H. beliau pernah berkata dalam munajatnya kepada Allah sebagai berikut:
1. Wahai Tuhanku, jika Engkau menuntutku karena dosaku, maka aku akan mencari-Mu karena ampunan-Mu (sebab ampunan-Mu jauh lebih luas daripada dosaku).
2. Jika Engkau menuntutku karena kekikiranku, maka aku akan mencari-Mu karena kemurahan-Mu.
3. Jika Engkau melemparkan aku ke dalam neraka, maka aku akan memberitahukan kepada penduduk neraka bahwa aku mencintai-Mu.

Keberhasilan

"Keberhasilan itu ada pada alam tindakan bukan pada alam angan-angan"

Senin, 16 Maret 2009

Intisari Iman

Intisari Iman*
Oleh Ansori

Pada dasarnya, iman yang ideal dan dapat dijadikan sarana perbaikan utama harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan Allah SWT serta memilki ciri-ciri yang digariskan Rasul-Nya.
Iman adalah proses kejiwaan yang berhubungan dengan segenap dimensi rohani, yang meliputi akal, keinginan, dan perasaan manusia. Oleh karena itu, dalam iman perlu adanya getaran jiwa yang dengan itu seseorang bisa menyingkap hakikat wujud sesuai dengan kenyataan yang ada. Hakikat wujud ini tidak mungkin dapat tersingkap kecuali melalui wahyu ilahi yang suci.
Dalam hal ini, pemahaman atau penyingkapan akal harus mencapai batas kepastian, keyakinan yang kokoh dan tak tergoyahkan, serta tidak dicemari keraguan dan kekaburan sedikitpun. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu” (QS Alhujurat [49]: 15).
Pemahaman dan pengetahuan yang kokoh ini harus diiringi kesadaran hati dan keinginan yang terwujud pada sikap tunduk dan taat pada hukum Allah SWT, serta kerelaan atas keputusan-Nya dan penyerahan diri kepad-Nya. “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hinggga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima sepenuhnya” (QS Annisa’[4]: 65).
Kesadaran semacam ini, menurut Yusuf Qardawi merupakan kecenderungan hati yang dapat menjadikan seseorang berbuat sesuai dengan tuntutan akidah, berpegang teguh pada prinsip-prinsip akhlak dan amal saleh, serta berjihad di jalan Allah SWT dengan harta dan jiwanya.
Pada dasarnya, iman yang dituntut untuk dihidupkan bukan hanya sekedar syiar yang digemakan atau dakwah yang dikumandangkan. Iman yang dimaksud adalah aturan kehidupan yang sempurna bagi individu dan umat manusia. Selain itu, dapat pula menjadi cahaya benderang yang menerangi pikiran, perasaan, dan keinginan seseorang dalam kehidupannya.
Iman yang benar dan lurus juga akan menerangi kehidupan masyarakat dengan pancaran cahayanya. Selain itu, dapat pula memberikan pengaruh luar biasa terhadap seluruh dimensi kehidupan serta menjadikan manusia menyandang ciri ketuhanan, baik dalam hal pemikiran, pemahaman, perasaan, akhlak, maupun aturan.
Dalam hal ini, iman seperti itu akan mengubah manusia dari sosok yang hina dan lemah menjadi makhluk Tuhan yang memiliki tekad, misi, tujuan, kemuliaan dan kekuatan.
*Tulisan ini pernah dimuat di kolom Hikmah harian umum REPUBLIKA pada hari Rabu, 11 Maret 2009

Selasa, 03 Maret 2009

Ketika Fir’aun Hendak Membunuh Tuhan Musa

Ketika Fir’aun Hendak Membunuh Tuhan Musa

Diceritakan bahwa suatu ketika Ramses II, atau yang lebih dikenal dengan Fir’aunnya Nabi Musa, memerintah Haman, menteri yang menjadi tangan kanannya, untuk membangun sebuah bangunan pencakar langit tertinggi, yang belum pernah dibuat peradaban manapun di muka bumi.
Haman, sang menteri yang menangani pembangunan di negeri Mesir pun tanggap, dan mengerahkan 50.000 pekerjanya untuk segera merealisasikan amanat sang raja.
Begitu ‘mega proyek’ itu rampung, Fir’aun lantas menaiki puncak bangunan dengan membawa busur. Ia lalu memanah kea rah langit. Anak panah itu pun melesat, menembus angkasa.
Tak lama berselang, anak panah itu jatuh dalam keadaan berlumuran darah. Melihat hal itu, fir’aun girang bukan kepalang, dengan penuh kesombongan ia berkata: “Aku telah membunuh Tuhan Musa!”
Allah murka dengan kesombongan Fir’aun. Menjelang matahari terbenam, Allah mengutus Jibril untuk mengepakkan kedua sayapnya menghantam bangunan itu, dan membelahnya menjadi tiga bagian. Bagian pertama menggilas pasukan Fir’aun dan menewaskan sejuta prajurit. Bagian kedua jatuh ke dalam laut. Dan yang terakhir terhempas jauh ke arah barat.
Begitulah Allah menunjukkan kemahaperkasaannya dengan mengirim azab yang mengacaukan mega proyek Fir’aun. Semua orang yang terlibat dalam pembangunan itu juga tak luput dari azab, semuanya tewas.

Sumber: Tafsir Al-Qurtubi dan Tafsir Fakhr ar-Razi.

Detik-Detik Kelahiran Rasulullah SAW

Detik-Detik Kelahiran Rasulullah SAW

Yang jelas Rasulullah SAW lahir pada hari senin, di tahun penyerbuan Abrahah ke Mekkah. Mengenai tanggal lahirnya masih terjadi perbedaan pendapat yang sangat banyak. Yang biasa dipakai di Indonesia adalah pendapat Abu Ishaq 12 Rabi’ul awal.
Kelahiran Rasulullah SAW, ada yang menyatakan terjadi pada saat terbitnya fajar. Sebagaian lagi menyatakan terjadi di siang hari. Tempat lahirnya di Mekkah, tepatnya di Zuqaq al-Maulid (lorong kelahiran) di Syi’ib Bani Hasyim. Selain itu, ada yang menyatakan di Radm dan ‘Usfan.
Zuqaq al-Maulid ini akhirnya dihibahkan oleh Rasulullah kepada Aqil bin Abi Thalib, saudara Ali bin Abi Thalib ra. Setelah Aqil meninggal, Zuqaq al-Maulid ini dijual oleh putera Aqil kepada Muhammad bin Yusuf, saudara dari Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi (panglima Abdul Malik bin Marwan yang terkenal kejam dan pernah menghancurkan Ka’bah dengan hantaman manjaniq).
Detik-detik kelahiran Rasulullah SAW menyimpan banyak fenomena yang menjadi tanda pra dari kenabian dan keagungan beliau (irhash). Ada yang terjadi di rumah atau di lokasi kelahiran, adapula yang terjadi di temapt yang jauh seperti yang terjadi di Persia dan Yatsrib.
Di antara fenomena alam yang terjadi di lokasi kelahiran Rasulullah SAW adalah ada bintang yang mendekat ke Syi’ib Bani Hasyim. Utsman bin Abi al-Ash mendapat cerita dari ibunya, bahwa ia menyksikan malam kelahiran Rasulullah SAW. Ibu Utsman berkata: “Tidak ada yang aku lihat dari rumah itu kecuali cahaya. Aku melihat bintang-bintang mendekat, hingga aku berkata: ‘Akan jatuh kepadaku’. Ketika ia terlahir, keluar dari Aminah cahaya yang membuat rumah itu terang benderang, sehingga yang aku lihat hanyalah cahaya.”
Ibu susu Rasulullah SAW, Halimah as-Sa’diyah, pernah diberi tahu oleh Sayyidah Aminah mengenai kelahiran Rasulullah SAW: “Sesungguhnya anakku ini memiliki keagungan. Aku mengandungnya, lalu tidak kandungan yang lebih ringan bagiku dan lebih besar berkahnya. Ketika aku melahirkannya, aku melihat cahaya seperti kilatan bintang yang menyinari untukku unta-unta di Bushra (Syam/Syiria). Lalu aku melahirkannya, maka ia jatuh tidak seperti bayi-bayi (yang lain). Ia jatuh sambil meletakkan tangannya ke tanah dan mengangkat kepalanya ke langit.”
Keluarnya cahaya yang menerangi istana-istana Romawi di Bushra (Syiria/Syam) diriwayatkan dengan sanad yang sangat banyak. Ada bebearapa yang shahih. Mengenai makna cahaya itu, terdapat beberapa penafsiran. Ada yang menyatakan bahwa cahaya di Syam itu merupakan isyarat akan keistimewaan Syam dalam Islam. Dalam perjalanan sejarah pasca wafatnya Rasulullah SAW, memang kenyataannya Syam menjadi negeri yang membawa bendera keagungan Islam. Setelah Khalifah Umar berhasil menaklukkan Damaskus, Palestina dan kota-kota penting lainnya di Syam, maka sejak itu Syam menjadi pusat kekuatan untuk menghabisi Romawi. Dari Syam lahir penaklukan Afrika Selatan, Afrika Barat, Spanyol, Portugal dan Prancis Barat.
Memang, seperti yang disebutkan oleh Ka’ab al-Ahbar, seorang Yahudi yang kemudian masuk Islam, bahwa dalam kitab-kitab sebelum Islam, disebutkan: “Muhammad Rasulullah, lahirnya di Mekah, tempat hijrahnya Yatsrib dan kerajaannya di Syam.” Paca al-Khulafa’ ar-Rasyidun, kerajaan Islam berpusat di Damaskus di bawah kendali Bani Umayyah.
Adapun yang menafsirkan bahwa cahaya ke istana Bushra itu adalah sebagai tanda bahwa Rasulullah SAW menerangi mata hati dan menghidupkan hati yang mati. Adapula yang menyatakan sebagai isyarat bahwa yang dibawa oleh beliau adalah cahaya yang menunjukkan manusia dan menghilangkan kegelapan syirik. Sebab, dalam riwayat lain, disebutkan bahwa cahaya itu tidak hanya menerangi istana Bushra, tapi juga menerangi apa yang berada di antara timur dan barat.
Al-Imam Abu Syamah berkata: “Keluarnya cahaya ketika Rasulullah SAW lahir sudah sangat masyhur di Qurays dan banyak dibicarakan oleh mereka.”
Selain keluarnya cahaya, gabungan dari berbagai riwayat menyebutkan bahwa beliau lahir dalam keadaan berlutut, telapak tangannya di tanah, lalu menggenggam debu, jari telunjuknya memberi isyarat seperti orang yang membaca tasbih, matanya memandang ke langit, kemudian menurunkan tubuhnya seperti orang yang sujud.
Mengenai genggaman debu dan pandangan ke langit, seorang dari Klan Lahab yang mendengar cerita ini bilang kepada temannya: “Selamatkan dia. Jika tanda ini benar, maka bayi ini akan menguasai penduduk bumi.”
Adapula yang menyatakan bahwa pandangan ke langit menandakan ketinggian derajat beliau, menjadi pemimpin umat manusia, selalu menuju kepada yang lebih tinggi, dan derajat serta hal-ihwalnya yang lain terus meninggi.
Sedangkan mengenai sujudnya beliau merupakan tanda pra, bahwa sejak awal, hidup Rasulullah SAW adalah taqarrub kepada Allah SWT.

Kamis, 19 Februari 2009

SYED M. NAQUIB AL-ATTAS DAN ISMAIL RAJI AL-FARUQI
ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN

Pendahuluan
Topik Islamisasi ilmu pengetahuan dan pendidikan dalam Islam sudah diperdebatkan sejak Konferensi Dunia Pertama tentang Pendidikan Islam di Makkah 1977. tetapi sayangnya tidak ada usaha serius untuk melacak sejarah gagasan dan mengkaji atau mengevaluasi sejumlah persoalan pokok yang berkenaan dengan topik ini pada tingkat praktis.
Gagasan Islamisasi sebenarnya berangkat dari asumsi bahwa ilmu pengetahuan itu tidak bebas nilai atau netral. Betapapun diakui pentingnya transfer ilmu Barat ke Dunia Islam, ilmu itu secara tak terelakkan sesungguhnya mengandung nilai-nilai dan merefleksikan pandangan-dunia masyarakat yang menghasikannya, dalam hal ini masyarakat Barat. Sebelum diajarkan lewat pendidikan, ilmu tersebut harus ditepis terlebih dahulu agar nilai-nilai yang bertentangan secara diametral dengan pandangan-dunia Islam bisa disingkirkan. Gagasan islamisasi, dengan demikian, merupakan upaya dekonstruksi terhadap ilmu pengetahuan Barat untuk kemudain direkonstruksi ke dalam system pengetahuan Islam.
Dalam makalah ini kami akan mengupas persoalan islamisasi ilmu pengetahuan sebagaimana digagas dan dipraktikkan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Ismail Raji al-Faruqi pemikir Muslim kontemporer yang sangat menonjol.

Pembahasan
1. Syed M. Naquib Al-Attas
C Biografi Syed M. Naquib Al-Attas
Syed Muhammad Naquib ibn Ali ibn Abdullah ibn Muhsin Al-Attas lahir pada 5 September 1931 di Bogor, Jawa Barat. Di antara leluhurnya ada yang menjadi wali dan ulama. Salah seorang di antaranya adalah Syed Muhammad Al-‘Aydarus (dari pihak ibu), guru dan pembimbing ruhani Syed Abû Hafs ‘Umar ba Syaibân dari Hadramaut, yang mengantarkan Nûr Al-Dîn Al-Rânîrî, salah seorang alim ulama terkemuka di dunia melayu, ke tarekat Rifa’iyyah. Ibunda Syed Muhammad Naquib, yaitu Syarifah Raquan Al-‘Aydarus, berasal dari Bogor, Jawa Barat, dan merupakan keturunan ningrat Sunda di Sukapura.
Latar belakang keluarganya memberikan pengaruh yang besar dalam pendidikan awal Syed Muhammad Naquib. Dari keluarganya yang terdapat di Bogor, dia memperoleh pendidikan dalam ilmu-ilmu keislaman, sedangkan dari keluarganya di Johor, dia memperoleh pendidikan yang sangat bermanfaat baginya dalam mengembangkan dasar-dasar bahasa, sastra, dan kebudayaan melayu.
Pada usia lima tahun, Syed Muhammad Naquib dikirim ke johor untuk belajar di Sekolah Dasar Ngee Heng (1936-1941). Pada masa pendudukan Jepang, dia kembali ke Jawa untuk meneruskan pendidikannya di Madrasah Al-‘Urwatu Al-Wutsqâ, Sukabumi (1941-1945). Setelah Perang Dunia II pada 1946, Syed Muhammad Naquib kembali ke Johor untuk merampungkan pendidikan selanjutnya, pertama di Bukit Zahrah School kemudian di English Colleg (1946-1951).
Syed Muhammad Naquib banyak menghabiskan masa mudanya dengan membaca dan mendalami manuskrip-manuskrip sejarah, sastra, dan agama, serta buku-buku klasik Barat dalam bahasa Inggris yang tersedia di perpustakaan keluarganya yang lain.[1]
Syed Muhammad Naquib al-Attas adalah seorang pakar yang menguasai pelbagai disisplin ilmu, seperti teologi, filsafat dan metafisika, sejarah dan sastra. Dia juga seorang penulis yang produktif dan otoritatif, yang telah memberikan beberapa kontribusi baru dalam disiplin keislaman dan pereadaban melayu.
Dia jugalah orangnya yang telah merancang dan mendesain bangunan kampus ISTAC pada 1991. pada 1993, dia diminta menyusun tulisan klasik yang unik untuk Kursi Kehormatan Al-Ghazâlî. Pada 1994, dia diminta menggambar auditorium dan masjid ISTAC lengkap dengan lanskap dan dekoradi interior yang bercirikan seni arsitektur Islam yang dikemas dalam sentuhantradisional dan gaya kosmopolitan.[2]

B Karya Tulis
(1) Buku dan Monograf
Al-Attas telah menulis 26 buku dan monograf, baik dalam bahasa Inggris maupun Melayu dan banyak yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa lain, seperti bahasa Arab, Persia, Turki, Urdu, Malayalam, Indonesia, Prancis, Jerman, Rusia, Bosnia, Jepang, India, Korea, dan Albania. Di antara karya-karyanya tersebut adalah:[3]
1. Islam and Secularism, ABIM, Kuala Lumpur, 1978. diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu, India, Persia, Urdu, Indonesia, Turki, Arab, dan Rusia.
2. Islam and the Philoshophy of Science, ISTAC, Kuala Lumpur, 1989. diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Bosnia, Persia, dan Turki.
3. Islam: Paham Agama dan Asas Akhlak, ABIM, Kuala, Lumpur, 1977. versi bahasa Melayu
4. Risalah untuk Kaum Muslimin, monograf yang belum diterbitkan, 286 h., ditulis antara Februari-Maret 1973. (buku ini kemudian diterbtkan di Kuala Lumpur oleh ISTAC pada 2001—penerj.)
5. The Mysticism of Hamzah Fanshûrî, University of Malaya Press, Kuala Lumpur, 1969
(2) Artikel
2. “Islamic Culture in Malaysia”, Malaysian Society of Orientalist, Kuala Lumpur, 1966
3. “Rampaian Sajak”, Bahasa, Persatuan Bahasa Melayu Universiti Malaya no. 9, Kuala Lumpur, 1968.
4. “Indonesia: 4 (a) History: The Islamic Period”, Encyclopedia of Islam, edisi baru, E.J. Brill, Leiden, 1971.
5. “A General Theory of The Islamization of the Malay Archipelago”, Profiles of Malay Culture, Historiographi, Religion, and Politics, editir Sartono Kartodirdjo, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1976

C Pemikiran Syed M. Naquib Al-Attas
Latar belakang akademis al-Attas adalah kajian sastra dan sejarah Melayu. Namun pemikirannya dalam bidang sejarah pun nyaris tidak pernah lepas dari pembahasan metafisika atas Islam. Salah satu isu terpenting dari metafisika Islam adalah posisi ilmu dan persoalan epistemology.
Al-Attas melihat bahwa dalam lingkupnya yang lebih sempit, pada tingkat praktis dan empiris, ilmu pengetahuan memilki tujuan yang sama dengan metafisika. Oleh sebab itu, ilmu pengetahuan harus bersumber pada metafisika, yaitu ilmu yang lebih tinggi. Al-Attas memang lebih kerap berbicara tentang filsafat ilmu pengetahuan daripada ilmu pengetahuan Islam. Dia pun menggunkan istilah “islamisasi” secara terbatas dan menerapkannya secara persial atas temuan ilmu pengetahuan kontemporer, meskipun pada mulanya dialah yang pertama kali menggunkan istilah ini dalam makna yang dipahami kini.[4] Al-Attas dalam bukunya The Concept of Education in Islam: A Framework for an Islamic Philosophy of Education yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Islamisasi adalah pembebasan manusia, pertama dari tradisi magis, mitos, animis dan faham kebangsaan dan kebudayaan pra-Islam, kemudian dari kendali sekuler atas nalar dan bahasanya.[5]
Bagi al-Atas misalnya, islamisasi ilmu pengetahuan mengacu kepada upaya mengeliminir unsur-unsur serta konsep-konsep pokok yang membentuk kebudayaan dan peradaban Barat, khususnya dalam ilmu-ilmu kemanusiaan. Tercakup dalam unsur-unsur dan konsep ini adalah cara pandang terhadap realitas yang dualistik, doktrin humanisme, serta tekanan kepada drama dan tragedi dalam kehidupan rohani sekaligus penguasaan terhadapnya. Setelah proses ini dilampaui, langkah berikutnya adalah menanamkan unsur-unsur dan konsep pokok keislaman. Sehingga dengan demikian akan terbentuk ilmu pengetahuan yang benar; ilmu pengetahuan yang selaras dengan fitrah.[6]
Mengenai ilmu pengetahuan modern, al-Attas berpendirian relatif jauh lebih terbuka dibandingkan dengan beberapa pemikir lainnya, karena ia menganggap islamisasi ilmu pengetahuan tidaklah berhubungan langsung dengan teoriilmu pengetahuan tertentu, karena sampai tingkat tertentu, temuan ilmu pengetahuan, misalnya toeri gravitasi Newton, adalah bebas nilai.
Dalama filsafat ilmu pengetahuan modern, terutama al-Attas mengkritik pandangan mengenai sumber ilmu yang tidak mengakui adanya sumber kebenaran mutlak, seperti Alquran, dan otoritas serta metodenya.
Dalam upayanya mengajukan alternatif, al-Attas bergerak lebih jauh dengan menunjukkan secara terperinci dasar-dasar penciptaan epistemology Islam, yang terutama dicapai oleh para filsuf muslim terdahulu. Ini terutama dibahas dalam karya terakhirnya, Prolegomena to the Metaphysics of Islam (mukadimah bagi Metafisika Islam, 1995), yang berupaya mengupas asas-asas metafisika dan epistemology Islam dengan bersandar pada para temuan filsuf muslim itu. Jika semua ini telah terumuskan dengan baik, dan diajarkan kepada individu muslim sedemikian hingga ilmu ini cukup dihayati, maka Islamisasi tidak menjadi persoalan lagi karena akan terjadi secara otomatis melalui diri individu itu. Jadi “lokus” islamisasi bukanlah disiplin ilmu, namun individu ilmuannya.[7]

2. Ismail Raji al-Faruqi
A Biografi Ismail Raji al-Faruqi
Ismail Raji al-Faruqi lahir di Jaffa, Palestina pada tanggal 1 Januari 1921. pendidikan yang dilaluinya, seperti kebanyakan anak-anak keturunan arab yang selalu mengutamakan pendidikan agama, ia juga memulai pendidikannya dengan pendidikan agama. Selanjutnya ia memasuki College Des Fress, Libanon sejak 1926 sampai 1936. selesai di lembaga ini, ia selanjutnya kuliah di Amerika University, Beirut sampai menyelesaikan sarjana muda dengan gelar BA (Bachelor of Arts) tahun 1941[8], al-Faruqi lalu bekerja untuk pemerintah Inggris di Palestina. Pada tahun 1945, dia dipilih sebagai Gubernur Galilea. Tapi, setelah Israel mencaplok Palestina, ia pindah ke Amerika Serikat. Di Amerika, ia melanjutkan pendidikan Master dalam bidang filsafat di University of Indiana dan University of Harvard. Dia melanjutkan pendidikannya dengan mengambil gelar doktor filsafat di University of Indiana dan di Al-Azhar University pada tahun 1952. Dia kemudian mengajar beberapa universitas diseluruh dunia diantaranya universitas di Kanada, Pakistan dan Amerika Seirkat,[9] dan mengabdikan dirinya sebagai staf pengajar di temple University sampai akhir hayatnya 27 Mei 1986 (18 Ramadhan 1406 H). meninggal dunia dalam suatu peristiwa tragis, para ekstrimis Yahudi membunuh al-Faruqi serta istrinya dalam rumahnya di kota Wyncote Pencylvania.
Dia adalah seorang nasionalis Arab yang banyak membuat tulisan tentang agama Yahudi dan perbandingan agama. Hingga kinipun, seperti tampak pada banyak artikel dalam buku, jurnal, ataupun ensiklopedi yang membahas sumbangan pemikirannya, ia lebih dikenal sebagai seorang pemikir dalam disiplin kajian agama. Ia juga menulis beberapa artikel dalam jurnal kajian agama.[10]

B Karya Tulis
Al.-Faruqi adalah ilmuan yang produktif. Ia berhasil menulis lebih dua puluh buku dan seratus artikel. Di antara bukunya yang terpenting adalah: Tauhid: its Imlications for Thought and file (1982). Buku ini mengupas tentang tauhid secara lengkap. Tauhid tidak hanya dipandang sebagai ungkapan lisan bahkan lebih dari itu, tauhid dikaitkan dengan seluruh aspek kehidupan manusia, baik itu segi politik, sosial, dan budaya. Dari inilah kita dapat melihat titik tolak pemikiran Al- Faruqi yang berimplikasi pada pemikirannya dalam bidang-bidang lain. Dalam buku Islamization of Knowledge: General Principle and Workplan (1982), walaupun ukurannya sangat sederhana, namun menampilkan pikiran yang cemerlang dan kaya, serta patut dijadikan rujukan penting dalam masalah Islamisasi ilmu pengetahuan, didalamnya terangkum langkah-langkah apa yang harusditempuh dalam proses islamisasi tersebut.[11]
Karya-karya terpentingnya lagi adalah The Trialogue of AbrahamFaiths (Perbincangan Tiga Pihak mengenai Agama Ibrahim, 1986), Essays in Islamic and Comparative Studies (Esai dalam Kajian Islam dan Komparatif, 1982), Historical Atlas of the Religions of the World (Atlas Historis Agama Dunia, 1974) dan sebagainya.[12]

C Pemikiran Ismail Raji al-Faruqi
Al-Faruqi sampai pada kesimpulannya tentang perlunya Islamisasi setelah menganalisis masalah umat. Dalam setiap bidang, seperti polit, ekonomi, dan budaya muslim terpinggirkan, kalah oleh dominasi barat. Menurtnya, inti masalah ini adalah system pendidikan yang mengasingkan muslim dari agamanya sendiri, dan dari sejarah kegemilangan agamanya yang seharusnya menjadi sumber kebanggaan.
Dengan demikian, solusinya adalah membenahi system pendidikan. System pendidikan yang membuat pemisahan antara ilmu agama (madrasah) dan ilmu non agama (sekolah, universitas) harus dipadukan kembali. Pada tingkat ini pula al-Faruqi sudah mulai membayangkan langkah praktis yang harus dilakukan. Ia membayangkan bahwa universitas-universitas di dunia Islam harusnya cukup banyak memberikan pengajaran tentang peradaban Isalam. Tujuannya adalah memunculkan kembali identitas pelajar muslim.[13]
Sementara menurut Ismail al Faruqi, islamisasi ilmu pengetahuan dimaknai sebagai upaya pengintegrasian disipilin-disiplin ilmu modern dengan khazanah warisan Islam. Langkah pertama dari upaya ini adalah dengan menguasai seluruh disiplin ilmu modern, memahaminya secara menyeluruh, dan mencapai tingkatan tertinggi yang ditawarkannya. Setelah prasyarat ini dipenuhi, tahap berikutnya adalah melakukan eliminasi, mengubah, menginterpretasikan ulang dan mengadaptasikan komponen-komponennya dengan pandangan dunia Islam dan nilai-nilai yang tercakup di dalamnya. [14]
Dalam deskripsi yang lebih jelas, islamisasi ilmu pengetahuan menurut al-Faruqi adalah memberikan definisi baru, mengarur data-data, memikirkan lagi jalan pemikiran dan menghubungkan data-data, mengevaluasikan kembali kesimpulan-kesimpulan, memproyeksikan kembali tujuan-tujuan – dan melakukan semua itu sedemikian rupa sehingga disiplin-disiplin ini memperkaya wawasan Islam dan bermanfaat bagi cita-cita Islam.[15]
Selanjutnya, secara terperinci ia menjabarkan proyek islamisasi ilmunya dalam dua belas langkah praktis, yaitu: [16]
1. Penguasaan disiplin ilmu modern: penguraian kategoris
2. Survei atau tinjauan disiplin ilmu
3. Penguasaan khazanah Islam: sebuah antologi
4. Penguasaan khazanah ilmiah Islam tahap analisa
5. Penentuan relevansi Islam yang khas terhadap disiplin-disiplin ilmu
6. Penilaian kritis terhadap disiplin ilmu modern: tingkat perkembangannya di masa kini
7. Penilaian kritis terhadap khazanah Islam: tingkat perkembangannya dewasa ini
8. Survei permasalahan yang dihadapi umat Islam
9. Survei permasalahan yang dihadapi umat manusia
10. Analisa kreatif dan sintesa
11. Penuangan kembali disiplin ilmu modern ke dalam kerangka Islam: buku-buku dasar tingkat unuversitas
12. Penyebarluasan ilmu-ilmu yang telah diislamiskan
Adapun alat-alat Bantu lain untukmempercepat islamisasi pengetahuan adalah:[17]
1. Konfrensi-konfrensi dan seminar-seminar
2. Lokakarya-lokakarya untuk pembinaan staf

Kritik atas Gagasan Islamisasi Ilmu
Di seberang para penggagas ilmu pengetahuan Islam ini tentu saja ada pendirian lain yang bertentangan, seperti halnya Fazlur Rahman. Rahman adalah sarjana muslim yang memusatkan kajiannya pada al-Quran. Dari segi kuantitas karyanya dalam lingkup wacana ilmu pengetahuan Islam memang tidak menonjol. Rahman hanya manulis dua artikel tentang masalah ini dalam majalah Arabia dan AJIIS, yang sempat memancing polemik sengit di negerinya, Pakistan. Namun pandangannya cukup mewakili gagasan para penentang islamisasi ilmu.
Fazlur Rahman menganggap rancangan sistematis al-Faruqi mengenai langkah-langkah islamisasi ilmu terlalu mekanistis. Sementara al-Faruqi, dalam urutan langkah-langkah programnya, tampak lebih mementigkan penguasaan ilmu pengetahuan barat yang harus terlebih dahulu digarap daripada tradisi Islam sendiri.
Istilah Islamisasi bagi Rahman mengesankan sifat mekanis, karena seakan-akan dalam menghadapi berbagai ilmu yang datang dari barat, sesorang akan duduk begitu saja dan mengislamisasikannya.
Sebetulnya Rahman tidak sepenuhnya menentang gagasan ini, namun lebih menentang beberapa varian dalam gagasan ini yang memang terkesan bersifat mekanis. Ini, misalnya tampak dalam program 12 langkah al-Faruqi. Namun yang menjadi persoalan kemudian tidak hanya ilmu yang datang dari barat, tetapi dalam tradisi Islam sendiri tidak tertutup kemungkinan adanya teori yang tidak sesuai dengan Islam.
Satu hal yang tampaknya lebih penting dari respon Rahman adalah bahwa ia telah membawa persoalan yang sebelumnya hanya dibicarakan dalam konteks aktivisme Islam ke dalam kerangka perdebatan teoretis yang lebih besar, yaitu tentang bagaimana seharusnya seorang muslim menciptakan teori-teori dan system-sistem yang diturunkan dari Alquran secara abash.
Kritikan selanjutnya dilakukan oleh Pervez Hoodboy yang bertumpu pada pandangan instrumentalis yang sama dengan pandangan Rahman, dengan keyakinan akan netralitas ilmu pengetahuan sebagai landasannya. Serupa juga dengan Rahman, ia sebenarnya lebih mengarahkan kritiknya pada beberapa varian dalam wacana islamisasi ilmu, yang terutama diwakili oleh al-Faruqi.
Hoodboy mempertanyakan kebermaknaan istilah “ilmu pengetahuan Islam” sendiri. Menurutnya, harus dilakukan perbedaan antara ilmu pengetahuan yang dipraktekkan oleh kaum muslim pada saat ini maupun pada zaman keemasan Islam dan konsep ilmu pengetahuan Islam yang dianggap secara khusus mencerminkan karakter Islam.[18]

Kesimpulan
Syed Muhamamd Naquib al-Attas dan Ismail Raji al-Faruqi dipandang sebagai pelopor gerakan islamisasi ilmu pengetahuan, menurut mereka islamisasi ilmu pengetahuan mengacu kepada upaya mengeliminir unsur-unsur serta konsep-konsep pokok yang membentuk kebudayaan dan peradaban Barat.

Daftar Pustaka
Abdullah, Taufik, dkk, ed. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Dinamika Masa Kini. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeva, 2002
Al-Atta, Syed Muhammad Al-Naquib. Konsep Pendidikan dalam Islam, penerjemah Haidar Bagir. Bandung: Mizan 1996, cet. ke 7
Al-Faruqi, Ismail Raji. Islamisasi Pengetahuan, penerjemah Anas Mahyuddin. Bandung: Pustaka
Daud, Wan Mohd Nor Wan. Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas, penerjemah Hamid Fahmi dkk. Bandung: Mizan, 2003. cet. ke 1
Harahap, Syahrin dan Hasan Bakti Nasution. Ensiklopedi Aqidah Islam. Jakarta: Prenada Media, 2003
http://72.14.235.132/search?q=cache:qTfEBCluaxsJ:digilib.usu.ac.id/download/fs/arab-rahimah.pdf+Ismail+Raji+Al-Faruqi&hl=id&ct=clnk&cd=5&gl=id
http://www.acehinstitute.org/opini_mukhlisuddin_ilyas_islamisasi_ilmu_pengetahuan.htm
http://id.wikipedia.org/wiki/Ismail_Raji_Al-Faruqi


[1] Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas, penerjemah Hamid Fahmy dkk (Bandung: Mizan, 2003), cet ke 1. h. 45-47
[2] Daud, Filsafat…, h. 51
[3] Daud, Filsafat…, h. 55-58
[4] Zainal Abidin Bagir, “Al-Attas”, dalam Taufik Abdullah, dkk (e.d), Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Dinamika Masa Kini, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002), h. 147-148
[5] Syed Muhammad Al-Naquib Al-Attas, Konsep Pendidikan Islam, penerjemah Haidar Bagir (Bandung: Mizan, 1996), cet. ke 7, h. 95
[6]http://www.acehinstitute.org/opini_mukhlisuddin_ilyas_islamisasi_ilmu_pengetahuan.htm
[7]Bagir “Al-Attas”, dalam Taufik Abdullah, dkk (e.d), Ensiklopedi..,147
[8] Syahrin Harahap dan Hasan Bakti Nasution, Ensiklopedi Aqidah Islam, (Jakarta: Prenada Media, 2003) h. 97
[9] http://id.wikipedia.org/wiki/Ismail_Raji_Al-Faruqi
[10] Bagir “Al-Faruqi”, dalam Taufik Abdullah, dkk (e.d), Ensiklopedi..,149
[11] http://72.14.235.132/search?q=cache:qTfEBCluaxsJ:digilib.usu.ac.id/download/fs/arab-rahimah.pdf+Ismail+Raji+Al-Faruqi&hl=id&ct=clnk&cd=5&gl=id
[12] Bagir “Al-Faruqi”, dalam Taufik Abdullah, dkk (e.d), Ensiklopedi..,149
[13] Bagir “Al-Faruqi”, dalam Taufik Abdullah, dkk (e.d), Ensiklopedi..,149
[14] http://www.acehinstitute.org/opini_mukhlisuddin_ilyas_islamisasi_ilmu_pengetahuan.htm

[15] Ismail Raji al-Faruqi, Islamisasi Pengetahuan, penerjemah Aanas Mahyuddin, (Bandung: PUSTAKA) h. 38-39
[16] al-Faruqi, Islamisasi…,h.98-115
[17] al-Faruqi, Islamisasi…,h. 118
[18] Bagir “Kritik atas Gagasan Islamisasi Ilmu”, dalam Taufik Abdullah, dkk (e.d), Ensiklopedi..,145-155